Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ menggelar acara peresmian lima sekolah dan madrasah se-DIJ menjadi SPAB di SMKN 6 Jogjakarta, Rabu (14/6/23). Plt Kepala Pelaksana BPDB DIJ Danang Samsurizal megatakan, berdasarkan indeks risiko bencana Indonesia 2022, DIJ memiliki nilai 119,56. Masuk kategori sedang.
Apa saja ancaman bencana di sekolah. Untuk sekolah yang berada di kota, kata dia, biasanya adalah gempa dan cuaca ekstrem. "Kalau sekolah yang ada di daerah Gunung Merapi ya itu (erupsi) gunung, kalau di pinggiran pantai yaitu tsunami," cetusnya.
Sedang upaya pengurangan risiko bencana dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat sampai tingkat paling bawah. Untuk memahami, mengenali, menyadari tingkat ancaman bencana sekitarnya. Menurut Danang unsur masyarakat yang harus dilibatkan tidak hanya pada usia dewasa secara fisik saja. Namun juga harus melibatkan anak pada usia dini sejak masih sekolah. "Pemahaman dan budaya sadar bencana perlu diberikan kepada anak-anak sebagai bekal kehidupan mereka di masa yang akan datang," kata kepala bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD DIJ itu.
Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X, yang didampingi Sekprov DIJ Beny Suharsono, menyebut masyarakat berhak dan wajib diberdayakan untuk mendapatkan pendidikan, pelatihan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanganan bencana. Masyarakat juga berhak dan wajib berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya. “Dalam penanggulangan bencana ada asas kebersamaan penanggulangan yang wajib dan mutlak,” kata PA X.
Kepala Sekolah SMK N 6 Jogja Wiwik Indriani menambahkan, dengan diberikan pembimbingan dan pelatihan terkait penanggulangan bencana itu. Supaya sekolah mampu mengatasinya di lingkungan sekolah secara mandiri. "Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan mendapatkan pendampingan serta ada perhatian dari dunia indrustri untuk mendukung sekolah. Sebab sekolah masih butuh banyak alat untuk mitigasi bencana," tandasnya (cr2/pra/sat)