RADAR JOGJA - Sebagai bentuk pencegahan kekerasan berbasis gender atau seksual di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN), Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Atma Jaya Yogyakarta (Satgas PPKS UAJY) kembali menggelar sosialisasi bagi peserta, asisten serta dosen pembimbing lapangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UAJY Periode 83. Berlangsung di Gedung Slamet Rijadi UAJY, Sabtu (10/6).
Ketua Satgas PPKS UAJY Dina Listiorini memperkenalkan beberapa jenis kejahatan yang terjadi di dunia pendidikan. Setidaknya ada tiga jenis kejahatan yang terjadi. Diantaranya perundungan atau bullying, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender antara lain kekerasan seksual.
“Ada banyak jenis kekerasan berbagis gender yang berpotensi di lokasi KKN dan ini harus kita cegah dan antisipasi. Kenali dan jangan sampai justru menjadi pelakunya,” tegasnya.
Baca Juga: Gencarkan Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus
Beberapa bentuk kekerasan diantaranya menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik. Menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon hingga siulan yang bernuansa seksual pada korban
Menatap korban dengan nuansa seksual sehingga timbul perasaan tidak nyaman. Mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio atau video bernuansa seksual kepada korban. Terlebih sudah dilarang oleh korban.
“Ini kerap terjadi, mengambil, merekam atau mengedarkan foto dan rekaman audio atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban. Terkadang adapula memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual,” katanya.
Baca Juga: Pesantren Aktif Cegah Kekerasan Seksual
Bentuk kekerasan seksual lain adalah mempraktikkan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang bernuansa kekerasan seksual. Melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi. Terakhir membiarkan terjadinya kekerasan seksual dengan sengaja.
“Ini hanya sebagian dari total 21 kekerasan berbasis gender di kampus yang berpotensi terjadi di lokasi KKN. Bisa dilakukan oleh antar mahasiswa, bisa dilakukan oleh mungkin ADPL atau DPL kalian,” ujar Dina. (dwi)
Editor : Dwi Agus.