MAGELANG - Pura Jagat Natha di kawasan Alun-Alun Kota Magelang kini rampung dibangun. Kehadiran pura tersebut melengkapi deretan rumah ibadah yang telah lama berdiri di kawasan tersebut. Di sekitar alun-alun terdapat Masjid Agung Kauman, Gereja Katolik St. Ignatius, GPIB Beth-El, serta Kelenteng Liong Hok Bio yang digunakan umat Buddha dan Konghucu.
Warga Kota Magelang Made Prastini mengatakan, keberadaan Pura Jagat Natha menjadi penantian panjang umat Hindu. Selama ini, umat Hindu di Kota Magelang harus beribadah di Pura Wira Buana, Mertoyudan. “Ini akan sangat bermanfaat bagi kami dan terima kasih dengan Pemkot Magelang karena sudah memfasilitasi kami umat Hindu yang hanya sedikit ini,” kata Prastini, Sabtu (26/9).
Baca Juga: Alexander Isak Tinggalkan Kamp Timnas Swedia karena Cedera
Menurut dia, dengan adanya Pura Jagat Natha, umat Hindu kini memiliki pilihan tempat ibadah yang lebih dekat. “Meskipun sudah ada pura di Kota Magelang, kami ibadahnya bisa di dua tempat, nanti bisa gantian,” ujarnya.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, Pemkot Magelang menyediakan lahan seluas 225 meter persegi untuk pembangunan pura. Lahan tersebut merupakan aset pemerintah daerah dan pemanfaatannya menggunakan skema yang sama dengan rumah ibadah lainnya.
Baca Juga: Pesta Miras di Taman Kampus ISI, Tujuh Pemuda Diciduk Tim Sparta Polresta Solo
Damar menyebut keberadaan berbagai rumah ibadah di kawasan alun-alun menjadi gambaran kehidupan masyarakat Kota Magelang yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Alun-Alun Kota Magelang menjadi cerminan toleransi yang nyata. Perbedaan justru membuat kita semakin kuat dan menjadi budaya bersatu,” katanya.
Dia memastikan keberadaan pura yang berdampingan dengan gereja tidak mengganggu aktivitas peribadatan. Pengurus rumah ibadah dan komunitas lintas agama telah berkoordinasi mengenai penggunaan sarana dan prasarana pendukung.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Tengah Tri Wahono mengatakan, pembangunan Pura Jagat Natha melibatkan berbagai pihak, tidak hanya umat Hindu. Dukungan datang dari masyarakat lintas agama, pengusaha lokal, dan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Magelang.
Kolaborasi tersebut membuat biaya pembangunan lebih rendah dari perkiraan awal. Pembangunan fisik pura menghabiskan sekitar Rp 450 juta dari estimasi awal sekitar Rp 800 juta. “Efisiensi terjadi karena sejumlah pekerjaan mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk pembersihan lahan, pengerjaan kayu, serta pemindahan jaringan listrik dan kabel internet,” bebernya.
Pura Jagat Natha mengusung arsitektur khas Bali dengan material batu alam dari Gunung Merapi dan Banyuwangi. Bangunan pura menerapkan konsep Tri Mandala yang membagi kawasan menjadi Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Area Utama Mandala menjadi bagian paling suci dan khusus digunakan untuk kegiatan peribadatan. Ruang tersebut mampu menampung sekitar 50 hingga 60 orang. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita