MAGELANG - Bagi sebagian siswa, matematika kerap menjadi momok terbesar. Namun belajar matematika ternyata tidak selalu harus duduk di depan buku dan mengerjakan deretan soal. Hal itulah yang dirasakan Farid Azhar. Ia justru mengajak siswa berpetualang dari satu candi ke candi lain di Magelang melalui permainan Roblox.
Roblox, game yang populer di kalangan pelajar itu dimodifikasinya menjadi media pembelajaran matematika. Inovasi itu pula yang mengantarkan Farid meraih gelar sarjana tanpa skripsi dan menjadi wisudawan terbaik Universitas Tidar (Untidar) periode ke-75, Sabtu (26/9).
Mahasiswa program studi (prodi) S1 Pendidikan Matematika itu lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 3,99. Ia menuntaskan kuliah dalam waktu 3 tahun 9 bulan 8 hari.
Baca Juga: Tim Riset Untidar Bawa Solusi Soal Pengelolaan Sampah, Diubah Jadi Energi hingga Paving Block
Gelar sarjana diraihnya melalui jalur publikasi artikel ilmiah di Portal Sinta 2. Artikelnya berjudul Development Of Geoarcala Roblox Game Integrating Ethnomathematics Of Magelang Temples To Enhance Critical Thinking Ability.
Ide itu muncul ketika dia melihat Roblox populer di kalangan anak sekolahan. "Itu menginspirasi saya membuat modifikasi game dengan matematika, sekaligus mengenalkan candi-candi di wilayah Magelang," katanya usai prosesi wisuda.
Game tersebut memuat konsep geometri, khususnya bangun tabung. Siswa diajak berpetualang mengunjungi sejumlah candi di Magelang. Di setiap lokasi, mereka harus menyelesaikan tugas berupa soal matematika.
Media pembelajaran itu telah diujicoba kepada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Salaman. Bagi Farid, pendekatan itu menjadi cara untuk membuat matematika lebih dekat dengan dunia yang disukai anak-anak.
Pilihan Farid menekuni pendidikan matematika sebenarnya cukup menyimpang dari latar pendidikannya. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 1 Magelang jurusan Teknik Kendaraan Ringan.
Ia memilih Pendidikan Matematika setelah mendapat dorongan dari guru matematikanya. Untidar kemudian menjadi satu-satunya pilihan karena berstatus PTN dan lokasinya dekat dengan rumahnya di Tempuran.
Baca Juga: Di-DO UMPWR, Hilang selama Enam Bulan, Imigrasi Purworejo Deportasi Mahasiswa asal Mali
Pilihan itu dijalaninya dengan tekun hingga berbuah predikat wisudawan terbaik. Di balik capaian itu, Farid juga membawa perjuangan keluarga sederhana. Ayahnya, Nur Khadik, bekerja sebagai montir di bengkel, sementara ibunya, Eka Setyawati, merupakan ibu rumah tangga.
Selama kuliah, Farid menjadi penerima beasiswa KIP Kuliah. Dukungan orang tua menjadi penyemangatnya menyelesaikan pendidikan sekaligus menjadi sarjana pertama di keluarganya.
"Ibu selalu berpesan, 'aku ra ngerti opo sek meh mbok lakoni. Tapi, selalu tak doakke sek apik-apik wae,'. Jadi saya selalu berusaha yang terbaik," ucapnya semringah.
Orang tuanya pun tidak pernah menuntut Farid harus menjadi seseorang dengan profesi tertentu. Pesan yang selalu diingat justru sederhana. Ilmu yang dimiliki harus bisa dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain. Pesan itu kemudian membawanya pada dunia mengajar.
Keinginan mengajar sebenarnya sudah muncul sejak awal kuliah. Namun Farid sempat merasa belum cukup menguasai materi untuk menjadi pengajar.
Kesempatan baru datang saat semester tujuh. Melalui seorang dosen, ia mendapat tawaran mengajar privat. Dari satu siswa, tawaran mengajar terus bertambah. Farid juga pernah mencoba mengajar di lembaga bimbingan belajar, tetapi akhirnya lebih memilih mengajar secara privat.
Baca Juga: Sugiyarto Unggul Telak dalam Pemungutan Suara Senat Untidar, Tiga Nama Diusulkan ke Mendiktisaintek
Dari pengalaman itu, ia menemukan tantangan baru. Bukan hanya membuat siswa mampu menghitung, tetapi mengubah anggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang menakutkan. Saat mengajar anak SD misalnya, ia sengaja menyederhanakan istilah agar lebih mudah diterima.
"Anak SD kan nggak tahu aljabar itu apa. Saya kenalkan namanya Jabra. Dari situ sebenarnya kita cuma perlu pendekatan yang cocok dengan anaknya," lontarnya.
Setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh Surat Keterangan Lulus (SKL), Farid kian mantap menjadi seorang pengajar. Kini ia telah diterima sebagai guru tetap di salah satu SMA swasta di Kota Magelang dan hampir dua bulan menjalani profesi tersebut.
Menurut Farid, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Dunia pendidikan menjadi cara untuk terus mengasah ilmu yang diperolehnya selama kuliah. "Mengajar itu bagi saya cara mengasah dan mempertahankan ilmu yang sudah dipelajari saat kuliah. Daripada kita lupa materi, lebih baik kita ajarkan," katanya.
Farid menjadi satu dari 900 mahasiswa yang diwisuda Untidar pada Wisuda Magister, Sarjana, Sarjana Terapan, dan Ahli Madya ke-75. Dari jumlah itu, 620 wisudawan meraih predikat cum laude dengan rata-rata IPK 3,62. Para lulusan berasal dari lima fakultas.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto mengatakan, tingginya persentase kelulusan tepat waktu menjadi satu capaian kinerja kampus. Karena antrean wisuda meningkat, Untidar bahkan berencana menggelar wisuda tambahan pada Oktober mendatang.
Dia juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi membawa karakter dan kontribusi nyata di tengah masyarakat. "Filosofi Ki Hajar Dewantara perlu menjadi pegangan lulusan dalam memberikan teladan, membangun semangat, dan berkontribusi melalui kompetensi yang dimiliki," paparnya. (aya/laz/zl)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja