MUNGKID - Pemkab Magelang mulai menerapkan sistem uji material konstruksi secara blind test untuk mengurangi celah intervensi dan manipulasi hasil pemeriksaan di laboratorium. Melalui inovasi bernama Sibeton, identitas pemilik sampel disembunyikan dari teknisi sehingga hasil pengujian diharapkan benar-benar ditentukan kondisi material yang diperiksa.
Sibeton atau Sistem Blind-Test dan Elektronik Transparan untuk Optimalisasi Nilai Laporan Hasil Uji Laboratorium Konstruksi tidak hanya mengubah proses pengujian menjadi elektronik. Tetapi juga memisahkan identitas pemohon dari sampel yang masuk ke laboratorium.
Pemohon mendaftarkan pengujian secara daring, kemudian sampel diberi barcode sebelum diserahkan kepada teknisi. Dengan mekanisme itu, teknisi tidak mengetahui siapa pemilik material yang sedang diuji.
Baca Juga: 5.567 Orang Jadi Korban Dugaan Keracunan MBG, Dinkes Catat 47 Kasus di DIY Mayoritas Alami Diare
Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudiyanto mengatakan, mekanisme blind test menjadi bagian penting untuk menjaga objektivitas hasil uji.
Menurut dia, identitas pemilik sampel berpotensi memengaruhi proses apabila diketahui oleh petugas yang melakukan pengujian. "Kalau tahu ini sampelnya si A, bisa diatur. Dengan sistem ini penguji tidak tahu ini punya siapa," kata David, Jumat (25/9).
Inovasi itu digagas Kepala UPTD Jasa dan Peralatan Konstruksi DPUPR Kabupaten Magelang Evi Yuliyanti. Menurutnya, layanan Sibeton tidak hanya ditujukan untuk pengujian beton. Laboratorium juga dapat melayani pemeriksaan sejumlah material konstruksi lain, seperti besi, tanah, paving, dan komponen material lainnya.
Baca Juga: Pembangunan Resort Watu Bolong Gunungkidul Diperintahkan Berhenti, Perizinan Belum Tuntas
Pengguna layanan pun, kata Evi, tidak dibatasi hanya untuk proyek pemerintah. Masyarakat yang hendak membangun atau merenovasi rumah dapat memanfaatkan pengujian tersebut untuk mengetahui apakah material yang digunakan memenuhi standar.
Pengujian material sejak sebelum digunakan di lapangan dinilai penting karena ketidaksesuaian spesifikasi dapat diketahui lebih awal.
Jika material atau campuran tidak memenuhi standar yang disyaratkan, penyedia dapat diminta melakukan perbaikan sebelum material tersebut digunakan dalam pekerjaan konstruksi.
Baca Juga: Honda with Kopi Good Day DBL DIY, SMAN 5 Yogyakarta Tekuk SMAN 9 Yogyakarta dengan Skor Tipis
Langkah tersebut juga berkaitan langsung dengan kualitas dan umur infrastruktur. Material yang tidak sesuai spesifikasi berpotensi memengaruhi kualitas konstruksi apabila telanjur digunakan dalam pekerjaan.
Meski demikian, pengembangan layanan tersebut masih menghadapi pekerjaan rumah. Evi mengatakan, akreditasi untuk sejumlah jenis pengujian, terutama material besi dan tanah, masih dalam proses. "Artinya cakupan layanan laboratorium masih akan dikembangkan seiring pemenuhan persyaratan akreditasi," bebernya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo