KEBUMEN - Bagi Tino Adi Gunawan, 33, tiba di Bandara Soekarno-Hatta dua hari lalu ibarat mimpi di siang bolong. Dia tak pernah menyangka nyawanya masih selamat dari cengkeraman bos judi online (judol). Perjalanan panjang dari Kamboja itu tak pernah dilupakan sebagai pengalaman hidup.
Dengan bantuan tongkat, Tino perlahan keluar dari kamarnya. Langkahnya tampak terseok-seok karena cedera pada bagian engkel kaki. Satu per satu tapak kakinya digerakkan penuh hati-hati. Pria berperawakan gempal itu kini terpaksa harus mengandalkan tongkat sebagai penopang dalam setiap langkahnya.
Baca Juga: Satgas MBG Sleman Sidak Dapur SPPG, Temukan Lalapan Basah hingga Soroti Saluran Cucian
Tino memang tak lagi gagah seperti ketika sebelum berangkat merantau ke Kamboja. Cedera pada bagian kaki itu menjadi jejak yang dia bawa pulang dari negeri orang. Di balik langkah yang berat itu ternyata tersimpan perjuangannya untuk lolos dari maut.
Di Kamboja, Tino mengaku bekerja untuk perusahaaan judol. Di sana dia sebagai operator spam judol. Setiap hari dia bekerja dibawah tekanan dengan durasi kerja lebih dari 15 jam. Jika pekerjaan meleset dari target, bos judol tak segan memberikan perlakuan kekerasan terhadap Tino.
Selama bekerja, Tino mengaku kerap mendapat berbagai macam penyiksaan. Mulai pemukulan hingga disuruh berlari mengitari lapangan. Terparah, dia harus menerima siksaan setrum hanya karena kesalahan yang diperbuat. "Sempat kepikiran masih bisa hidup atau tidak. Pokoknya ngeri banget, kapok," ucapnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (22/9).
Baca Juga: Sering Jual Produk Luar Negeri, Pemkot Jogja Dorong UMKM Lebih Tonjolkan Produk Lokal
Melihat kekejaman di depan mata, Tino hanya bertahan tiga bulan di camp perusahaan judol. Dia tak kuasa menahan aksi penyiksaan yang begitu vulgar hingga memutuskan untuk kabur. Dari pelarian itu ternyata Tino berhasil tertangkap. Alih-alih lepas dari cengkeraman bos judol, dia kembali bekerja dan menerima sisksaan. "Kalau ada salah, pasti dipukul pakai selang. Hampir setiap hari itu disuruh push up, lari dan sebagainya. Sampai tulang dengkul saya ini geser," katanya.
Tino tak pernah menyangka tujuan merantau ke Kamboja untuk mengadu nasib justru berujung bertaruh nyawa. Awalnya, dia tak pernah curiga akan bekerja di perusahaan yang berkecimpung di judol. Semua peristiwa pedih itu berangkat dari adanya informasi lowongan pekerjaan di media sosial (medsos). Sampai akhirnya pada Agustus 2025 dia bertemu seseorang dari salah satu agen yang menawarkan pekerjaan di luar negeri dengan nominal gaji fantastis.
Baca Juga: PSIM Jogja Evaluasi Fasilitas SSA Bantul, Saluran Air Kamar Mandi Mulai Dibenahi
Awalnya, dia tergiur karena dari agen penyalur pekerjaaan menawarkan pada posisi marketing pada sebuah e-commerce. Namun semua cerita manis itu berbubah ketika Tino harus bekerja sebagai operator judol.
Di Kamboja, dia dihadapkan dengan berbagai persoalan pelik. Selain mendapat ancaman kekerasan, setiap hari dia dihantui rasa waswas karena lokasi pekerjaan berada di daerah rawan konflik, tepatnya di perbatasan antara Kamboja dan Thailand. "Pas saya tanya ke agen bilangnya kerja cuma di depan komputer, begitu penjelasannya. Di Kamboja, saya baru sadar saya dijual," ucapnya.
Pengalaman hidup di Kamboja kini Tino kubur dalam-dalam. Dia bersyukur nyawanya dapat tertolong karena bantuan dari pemerintah daerah dan kementerian terkait. Dia berharap kisahnya menjadi pengingat bagi masyarakat luas agar tidak mudah tergiur dengan janji penghasilan besar, tetapi di baliknya penuh risiko. "Pokoknya jangan gampang tergoda. Cek semua dulu, karena saya berangkat cuma pakai paspor tanpa visa," pesannya. (laz)
Editor : Winda Atika Ira PuspitaSumber : Radar Jogja