KEBUMEN - Sejumlah petani di Kabupaten Kebumen mulai beralih menggunakan mesin perontok padi saat panen tiba. Mesin tersebut dipilih karena dinilai lebih praktis dan hemat tenaga. Di samping itu, bagi petani penggunaan mesin saat panen juga dapat meringkas waktu.
Petani asal Desa Lajer, Kecamatan Kebumen Muhyidin, 57, mengaku mulai terbiasa menggunakan mesin perontok padi saat proses panen. Menurutnya, banyak keunggulan dari penggunaan mesin, ketimbang dilakukan secara manual.
Salah satu manfaat penggunaan mesin perontok padi adalah tidak begitu menguras tenaga. "Tidak capek. Tinggal masukin, rontok sendiri," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (11/9).
Baca Juga: Pernah Jadi Alat Canggih, Erek Perontok Padi Dulu Sering Disewakan hingga Jadi Ladang Cuan
Dia mengatakan, dari sisi biaya operasional penggunaan mesin perontok padi tidak begitu mahal. Butuh setidaknya satu liter bahan bakar untuk menghidupi mesin dengan durasi satu jam. Selain itu ongkos yang perlu dikeluarkan yakni untuk perawatan mesin. Sebab terdapat beberapa onderdil butuh diganti secara berkala agar mesin tetap bekerja optimal. "Tergantung luas lahan, semakin luas sawahnya banyak bensin dikeluarkan," ujarnya.
Bagi Muhyidin, penggunaan mesin perontok padi cukup membantu petani seiring terbatasnya pekerja di sektor pertanian. Sekarang dia bersama petani lain tak lagi khawatir pulang terlalu sore karena penggunaan mesin cukup efektif memangkas waktu kerja. "Sekali panen paling tiga sampai empat orang, ada yang motong, ada yang pegang mesin," bebernya.
Baca Juga: Dari Scroll hingga Checkout, Kebiasaan Belanja Online Diam-Diam Mengubah Gaya Hidup Anak Muda
Muhyidin mengatakan, alat mesin pertanian (alsintan) sekarang terus berkembang. Jauh sebelum hadirnya mesin perontok padi, para petani masih mengandalkan cara manual. Yakni menggunakan papan kayu yang disusun untuk merontokkan bulir padi.
Namun, era modern seperti sekarang telah tersedia mesin pertanian multifungsi, Combine Harvester. Mesin ini dirancang untuk memotong, merontokkan padi hingga membersihkan gabah hasil panen.
Baca Juga: Bukan Cuma Bakpia, Pukis Jogja Ini Jadi Buruan Oleh-Oleh Meski Cabangnya Sudah di Mana-Mana
Dia mengatakan, penggunaan alsintan sebenarnya tinggal menyesuaikan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Menurutnya, tidak semua lahan cocok untuk diimplementasikan menggunakan mesin terbaru. "Misal pakai combine, kalau akses tidak bisa masuk susah. Paling memungkinkan mesin perontok, gampang dibawa," ucapnya. (fid/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja