PLTP Gunung Ungaran Dinilai Berpotensi Dukung Energi Rendah Karbon

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:17 WIB
PLTP Gunung Ungaran Dinilai Berpotensi Dukung Energi Rendah Karbon
PLTP Gunung Ungaran Dinilai Berpotensi Dukung Energi Rendah Karbon

RADAR JOGJA - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran yang mencakup Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal dinilai memiliki prospek untuk mendukung kebutuhan energi di masa mendatang. Pemanfaatan panas bumi dinilai dapat membantu menekan emisi dari sektor ketenagalistrikan sekaligus memperkuat penggunaan sumber energi rendah karbon.

Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Agus Setyawan, mengatakan pembangkit berbasis panas bumi secara umum menghasilkan emisi gas rumah kaca yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Beberapa jenis emisi yang dihasilkan antara lain karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat. Kata Agus dalam keterangannya, Kamis (17/9).

Menurut Agus, panas bumi memanfaatkan energi panas yang tersimpan di dalam bumi untuk menghasilkan listrik. Kinerja pembangkit dan tingkat emisi yang dihasilkan dipengaruhi oleh karakteristik sumber panas serta teknologi yang digunakan. Selain berpotensi menghasilkan listrik dengan emisi lebih rendah, panas bumi juga dapat memperluas keragaman sumber energi sehingga pasokan listrik tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit.

Baca Juga: Warga Gelar Larung Kerbau di Pantai Carita, Doakan 8 Orang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Meski demikian, sumber panas bumi tetap dapat membawa gas alami dari reservoir, seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Besarnya emisi tersebut dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya karena dipengaruhi oleh karakteristik fluida panas bumi dan teknologi pembangkit yang diterapkan.

Agus menilai pengelolaan sumber daya menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan pembangkit panas bumi. Salah satunya melalui proses reinjeksi, yaitu mengembalikan fluida panas bumi yang telah digunakan ke dalam reservoir. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi pembuangan limbah serta meminimalkan potensi dampak terhadap lingkungan.

Keberlanjutan pengelolaan reservoir juga menjadi faktor yang menentukan lamanya panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Agus mencontohkan pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, yang telah berlangsung selama sekitar satu abad. Menurutnya, apabila keberlanjutan pembangkit dapat dipertahankan dalam jangka panjang, panas bumi berpotensi menyediakan listrik secara andal dengan dampak emisi yang relatif rendah.

Baca Juga: Warga Gelar Larung Kerbau di Pantai Carita, Doakan 8 Orang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Sementara itu, pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran masih dilakukan secara bertahap. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa proses tersebut tetap mengedepankan kajian teknis, keselamatan, perlindungan lingkungan, serta pelestarian kawasan cagar budaya, termasuk Candi Gedong Songo. Saat ini, proyek masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan untuk memastikan potensi serta kelayakan pengembangannya.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, mengatakan setiap tahapan pengembangan harus didukung data, kajian teknis, aspek lingkungan, perizinan, dan pertimbangan sosial masyarakat. Eksplorasi dilakukan untuk mengetahui karakteristik sumber panas bumi sekaligus menentukan apakah sumber tersebut layak dikembangkan menjadi pembangkit listrik.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLTP Gunung Ungaran direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW) dengan target mulai beroperasi pada 2031. Sebelum memasuki tahap pembangunan, pengembang perlu memastikan karakteristik dan potensi reservoir melalui berbagai penelitian serta kegiatan eksplorasi.

Baca Juga: Tak Hanya MTS Maarif Jangkaran, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Temon Turut Jadi Korban Keracunan MBG

Dwi menjelaskan, pengeboran eksplorasi dilakukan berdasarkan hasil kajian geologi dan geofisika untuk mengetahui kondisi bawah permukaan serta menentukan lokasi reservoir yang menjadi target. Titik pengeboran di permukaan tidak selalu harus berada tepat di atas sumber panas bumi karena teknologi directional drilling memungkinkan sumur diarahkan menuju target reservoir dari lokasi tertentu.

Dengan demikian, penentuan lokasi sumur dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan pertimbangan teknis. Agus menilai pendekatan berbasis data diperlukan agar potensi panas bumi Gunung Ungaran dapat dikaji secara menyeluruh, baik dari sisi kapasitas listrik, pengurangan emisi, maupun kontribusinya terhadap pengembangan energi rendah karbon. Di sisi lain, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

FIBRIAN PUTRI HERAGUNG

Sumber: Berbagai Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
kebutuhan Energy gunung ungaran masa depan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi