MUNGKID - Kekeringan di Kabupaten Magelang mulai meluas. Hingga kini, dampaknya telah dirasakan di 14 kecamatan dan 31 desa dengan sekitar 2.500 kepala keluarga atau 15 ribu jiwa membutuhkan pemenuhan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto mengatakan, Borobudur menjadi salah satu wilayah dengan dampak kekeringan paling parah. Selain Borobudur, kebutuhan air bersih juga tinggi di Pakis, Salaman, Tegalrejo, Grabag, dan Secang.
Namun, kondisi kekeringan tidak terjadi merata di seluruh wilayah kecamatan. Pemenuhan air dilakukan terutama di titik-titik yang sumber airnya mengalami penurunan debit atau mengering. “Kalau ada mata air terdekat dengan dusun, kita bisa fasilitasi bantuan pipa. Jaraknya bisa 200 meter, 300 meter, bahkan sampai satu kilometer,” ujarnya Sabtu (13/9).
Baca Juga: BPBD Kota Jogja Perkuat Notifikasi Peringatan Dini Bencana lewaInformasi WhatsApp dan Seluler
Menurut Bambang, selain droping air bersih, pemerintah mulai membangun sumur bor dan jaringan pipanisasi dari sumber air yang masih tersedia. Langkah tersebut diharapkan mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan air setiap musim kemarau.
Air dari sumber yang masih tersedia nantinya dapat dialirkan melalui pipa menuju tandon dan dimanfaatkan warga. Meski wilayah terdampak terus bertambah, Bambang memastikan kebutuhan air bersih untuk keperluan domestik masih dapat dipenuhi hingga September dan Oktober dengan dukungan pemerintah, relawan, dunia usaha, komunitas, dan sumber pendanaan lainnya. “Mudah-mudahan awal November sudah turun hujan,” paparnya.
Di tengah meluasnya dampak kekeringan, bantuan air bersih terus digulirkan ke sejumlah wilayah. Sebanyak 90 ribu liter air didistribusikan ke 20 titik di empat kecamatan, yakni Borobudur, Pakis, Salaman, dan Tegalrejo.
Baca Juga: Bocah Tujuh Tahun Ditemukan Hanyut di Sungai Winongo Kecil, Meninggal karena Tenggelam
Droping tersebut dilakukan secara kolaboratif oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Paguyuban Sopir Truk Magelang, Polresta Magelang, PMI, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta didukung CSR Bendahara Pemuda Muhammadiyah Pusat.
Ketua FPRB Kecamatan Borobudur Nur Fauzan mengatakan 80 ribu liter dari total bantuan tersebut disalurkan FPRB bersama Paguyuban Sopir Truk Magelang. Sisanya berasal dari sejumlah pihak lainnya. "Ini untuk aksi sosial membantu warga yang terdampak kekeringan dan membutuhkan air bersih," kata Fauzan di Lapangan Randu Alas Tuksongo, Sabtu (12/9).
Di Kecamatan Borobudur, bantuan diprioritaskan untuk Desa Majaksingi dan Tegalarum. Debit sumber air di kedua wilayah tersebut terus menyusut. Di Majaksingi, sebagian warga masih mengandalkan sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, sumur warga mulai mengering sehingga kebutuhan air harus dipenuhi melalui dropping.
Sementara di Tegalarum, program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan warga. Fauzan menyebut air yang tersedia dapat kembali habis setelah digunakan selama dua hari.
FPRB Kecamatan Borobudur telah melakukan droping air sejak 3 September. Bantuan awalnya difokuskan ke Majaksingi sebelum diperluas ke Tegalarum. Penyaluran dapat diperluas ke wilayah lain jika terdapat permintaan akibat kekeringan.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, kemarau tahun ini terasa lebih panas dan kering. Menurutnya, menipisnya pasokan air tidak lagi hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi mulai mengganggu aktivitas ekonomi dan kesehatan warga.
Grengseng menegaskan, penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan pemerintah daerah seorang diri. Kolaborasi dengan relawan, dunia usaha, komunitas, organisasi masyarakat, dan warga diperlukan untuk memastikan kebutuhan air terpenuhi. "Mari kita jaga dan lestarikan alam serta mata air kita, sehingga masalah ini ke depan bisa kita antisipasi secara berkelanjutan," ajaknya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita