KEBUMEN - Tujuh penyandang disabilitas menerima bantuan berupa kaki palsu dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kebumen. Alat bantu gerak tersebut diberikan sebagai penunjang untuk mendukung aktivitas keseharian para penyandang disabilitas.
Ketua Sahabat Disabilitas Kebumen (SDK) Teguh Kuatno mengatakan, tujuh penyandang disabilitas itu berangkat dari berbagai kecamatan. Mereka mengalami keterbatasan fisik akibat kecelakaan maupun mengidap penyakit tertentu.
Dampaknya, masing-masing difabel selama ini kesulitan menjalani kehidupan secara mandiri karena tidak leluasa bergerak.
Baca Juga: Pasar Sepi dan Retribusi Tetap Jalan Disoal Pedagang Pasar Bantul, DKUKMPP Akan Lakukan Kajian
"Teman-teman sebelumnya hanya mengandalkan tongkat. Sekarang mulai adaptasi pakai kaki palsu," ucapnya kepada Radar Jogja, Jumat (11/9).
Menurut Teguh, pemberian bantuan kaki palsu membawa semangat dan harapan baru bagi penyandang disabilitas. Lewat bantuan tersebut dia berharap hambatan fisik bukan lagi menjadi suatu penghalang bagi mereka untuk beraktivitas. "Harapan saya teman-teman bisa kembali bekerja. Tidak merepoti keluarga karena keterbatasan fisik," lanjutnya.
Teguh menegaskan, hadirnya kaki palsu memberikan banyak makna bagi penyandang disabilitas. Selain berfungsi sebagai pengganti bagian anggota tubuh, penggunaan kaki palsu otomatis mengembalikan rasa percaya diri.
Baca Juga: Motor Digadaikan Warga Magelang untuk Judi Hendak Ditebus tapi Ditangkap Lebih Dulu
Bantuan tersebut setidaknya akan membangun kembali kesadaran agar penyandang disabilitas tumbuh secara mandiri. Dia juga mengapresiasi komitmen besar baznas yang selama ini terus konsisten mempehatikan kelompok rentan. "Kaki palsu akan menjadi motivasi. Mereka masih punya hak untuk bekerja dan berkarya," ujar Teguh.
Penerima bantuan kaki palsu Sariyun, 50, warga Desa Jogomertan, Kecamatan Petanahan mengaku senang setelah mendapat kabar menjadi salah satu penerima kaki palsu. Bantuan tersebut menurutnya sudah lama dinanti.
Dia merasa cukup berat jika harus membuat kaki palsu secara mandiri di tengah keterbatasan ekonomi yang tak menentu. "Terharu, sekarang mulai lepas tongkat. Pembuatan kaki palsu juga disesuaikan, lebih enak dan nyaman," katanya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo