MUNGKID - Warga Dusun Kepatran, Banjarsari, Grabag, Kabupaten Magelang memiliki cara unik untuk mengenalkan kopi lewat ruwat rawat. Tradisi, hasil bumi, olahraga, hingga proses pengolahan kopi dipertemukan dalam sebuah gelaran yang ingin membawa kopi Banjarsari semakin dikenal masyarakat luas.
Untuk kali pertama, Ruwat Rawat Kopi digelar dan mengusung tema Akar Tradisi Leluhur ke Cangkir Dunia. Kegiatan tersebut dikemas selama tiga hari, 4-6 September dengan rangkaian lomba seni tradisional, pementasan kesenian, karnaval budaya, wayang kulit, hingga kegiatan Playon Langgelang.
Panitia Ruwat Rawat Kopi, Sholahudin menjelaskan, kegiatan ini sekadar festival karena warga ingin memperkenalkan gastronomi kopi. Warga tidak hanya disuguhi kopi yang sudah jadi, tetapi diajak melihat perjalanan biji kopi sejak masih menjadi hasil perkebunan hingga siap diminum.
Baca Juga: Pohon Pinus di Lahan 1,5 Hektare Milik Perhutani di Kebumen Terbakar
Dia mengatakan, konsep tersebut sengaja dibuat agar mereka memahami bahwa kopi memiliki perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan warga Banjarsari. "Bukan hanya sekadar festival kopi, tapi kita menggabungkan bagaimana kopi itu sebagai sebuah kultur," paparnya, Sabtu (5/9).
Rangkaian Ruwat Rawat Kopi berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi pembukaan dan lomba seni tradisional yang melibatkan kelompok-kelompok seni lokal Desa Banjarsari. Kegiatan itu menjadi ruang bagi kesenian tradisional untuk tampil di tengah agenda yang berfokus pada komoditas kopi.
Hari kedua diisi karnaval seni budaya yang disambut antusias warga. Gunungan kopi dan hasil bumi menjadi bagian dari kemeriahan karnaval. Ada dua gunungan kopi yang diarak, baik biji kopi dan kopi bubuk.
Baca Juga: KAI Yogyakarta Hadirkan Kereta Tambahan ke Jakarta, Jawaban Cepat Saat Bandara Soetta Lumpuh
Gunungan tersebut, kata Sholahudin, bukan sekadar dekorasi. Bagi warga setempat, keberadaannya menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan terhadap tradisi leluhur. Warga pun berduyun-duyun memadati lokasi untuk mengikuti gerebek.
Malam harinya, warga disuguhi pementasan wayang kulit. Hari ketiga menjadi puncak kegiatan, yakni Playon Langgelang. Peserta diajak berlari melintasi kawasan perkebunan kopi dengan rute 8 kilometer (km) dan 3 km.
Aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan lanskap perkebunan kopi Banjarsari kepada warga dari luar desa. Konsep itu juga membuka kemungkinan perkebunan kopi menjadi ruang aktivitas sport wellness. "Peserta tidak hanya berolahraga, tetapi sekaligus menikmati suasana perkebunan dan mengenal kopi," paparnya.
Baca Juga: Miris! Landak Hutan Ditemukan Mati Terperangkap Dampak Karhutla di Kalimantan
Setelah menyelesaikan lari, mereka diperkenalkan dengan pengolahan kopi secara tradisional. Mulai dari proses penjemuran, penumbukan hingga menghasilkan biji kopi, proses sangrai dari green bean menjadi roast bean, sampai penyeduhan melalui stan brewing.
Terlebih, Sholahudin menambahkan, sekitar 90 persen warga setempat memiliki lahan yang digunakan untuk perkebunan kopi. Jenis yang paling banyak dibudidayakan adalah robusta.
Kepala Desa Banjarsari Muhammad Asfuri menyebut, kawasan penghasil kopi membentang dari Losari, Plangkat, Banjarsari, Sambengrejo hingga Tirto.
Baca Juga: Paralayang Festival 2026 Diikuti 76 atlet, Jadi Penanda Sport Tourism Kulon Progo
Kondisi tersebut menjadi alasan pemdes bersama warga ingin memperkuat identitas Banjarsari sebagai salah satu sentra kopi Magelang.
"Kami ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa Magelang ini ada kopi, terutama yang paling luas hamparannya di Desa Banjarsari, Kecamatan Grabag," ujar Asfuri.
Karena itu, Ruwat Rawat Kopi dirancang sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas tersebut. Festival, kata doa, menjadi ruang untuk mempertemukan petani, warga, pelaku seni, pelaku usaha, dan konsumen dalam satu rangkaian kegiatan. (aya)