MUNGKID - Di Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur, pohon bambu cukup melimpah. Keberadaannya lantas dimanfaatkan warga setempat untuk membuat aneka kerajinan. Bahkan dari tangan Heri Sutrisno, iratan bambu yang dulu lazim dianyam menjadi tampah, kini berubah menjadi kap lampu, piring, mangkuk, hingga furniture.
Produk-produk hasil iratan bambu itu tidak hanya dipasarkan di daerah. Pesanan telah menembus Jogja Bali, bahkan Singapura. Bukan dalam jumlah besar, tetapi pasar itu membuat kerajinan bambu yang dikerjakan dari rumah produksi Omah Pring Perkakas Rumah tetap bertahan dan berkembang.
Perjalanan itu bermula dari upaya Heri mempertahankan keterampilan yang diwariskan keluarganya. Sekitar 2017, ia melihat tradisi membuat tampah di lingkungannya mulai kehilangan penerus. Konon, nenek moyangnya mengolah kulit bambu menjadi iratan tipis dan lentur untuk dianyam menjadi tampah atau nyiru.
Baca Juga: Pohon Pinus di Lahan 1,5 Hektare Milik Perhutani di Kebumen Terbakar
Namun keterampilan tersebut semakin jarang ditekuni anak-anak muda. Heri lantas mencari cara agar iratan bambu tidak berhenti menjadi kerajinan dengan nilai jual rendah. Titik baliknya datang pada 2018 ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Dalam kegiatan itu, muncul gagasan mengembangkan iratan bambu menjadi produk dengan bentuk dan nilai ekonomi berbeda. Awalnya cukup sederhana. Iratan dibuat menjadi wadah kecil untuk tempat serbet di meja makan.
Heri tidak berhenti di bentuk awal tersebut. Ia mengembangkannya menjadi ukuran lebih besar. Dari percobaan itulah lahir kap lampu yang justru menjadi salah satu produk paling diminati hingga sekarang.
"Saya kembangkan sendiri untuk dijadikan lebih besar. Ternyata saya bisa buat lebih besar, yaitu kap lampu dan malah laku di pasaran," kata Heri saat ditemui di rumah produksinya, Dusun Kebonwage, Kebonsari, Jumat (4/9).
Sebelum dikenal dengan kap lampu berbahan iratan bambu, Heri sebenarnya lebih dulu mengerjakan produk rumah tangga berupa sendok. Permintaan terhadap sendok bahkan pernah mencapai sekitar 3.000 set.
Untuk memenuhi pesanan itu, lanjut dia, produksinya dilakukan secara bertahap dengan kapasitas sekitar 1.000 set per bulan. Selama beberapa bulan, produk itu lantas dikirim ke Bali.
Setelah pesanan sendok selesai, pelanggan kembali menghubungi Heri dan meminta produk lain, termasuk piring. Permintaan itu mendorongnya mencari alternatif bahan dan teknik produksi.
Heri kemudian menggunakan teknik coiling atau teknik pilin untuk mengolah iratan bambu. Teknik tersebut menjadi ciri penting produknya. Iratan bambu disambung memanjang, kemudian dililit atau dibuat menjadi gulungan melingkar.
Dari gulungan itu, bentuk produk dibangun sesuai desain yang diinginkan. "Selama masih di teknik coiling, kita masih bisa mengerjakan. Tinggal bentuknya saja yang berbeda-beda," ujarnya.
Dari satu teknik dasar itu, Heri kini telah mengembangkan sekitar 19 lebih bentuk produk. Kap lampu menjadi yang paling banyak diminati. Pembeli pun tidak bisa meminta bentuk produk lain sesuai keinginannya. Dengan catatan, masih memungkinkan dikerjakan menggunakan teknik tersebut.
Pada 2019, ia mulai memanfaatkan media sosial Facebook untuk memasarkan produknya. Dari sana informasi mengenai produk Omah Pring menyebar ke berbagai daerah, termasuk hingga luar Indonesia. Pelanggan dari Singapura lantas menghubunginya.
Dia menyebut, pesanan dari Singapura memang belum rutin. Pengiriman pertama dilakukan pada 2024 sebanyak 20 unit. Setelah sempat berhenti, pada 2026 pelanggan kembali memesan. Kali ini sebanyak 19 unit, terdiri atas 10 piring dan sembilan kap lampu.
Baca Juga: SSB Bangunharjo Bantul Konsisten Bina Pesepak Bola Muda Lokal Tembus Level Nasional
Berbeda dengan Bali yang permintaannya jauh lebih rutin, kata dia, pesanan Singapura masih bersifat sesekali. Pengiriman pun dilakukan melalui Surabaya karena barang kemudian dikonsolidasikan di kota tersebut sebelum dikirim ke Singapura.
"Kalau yang Singapura baru dua kali. Tahun 2024, terus berhenti, kemudian sekarang minta lagi," lontarnya.
Sementara Bali justru menjadi pasar terbesar dan relatif berkelanjutan. Dalam satu bulan, permintaan kap lampu dari Bali bisa mencapai 100 hingga 150 unit. Salah satu pesanan terbesar yang pernah dikerjakan mencapai 120 kap lampu berdiameter 60 sentimeter.
Untuk menyelesaikannya, Heri menghabiskan sekitar dua kuintal iratan bambu yang seluruhnya diperoleh dari sekitar Borobudur. Pasar di Jogja juga masih berjalan. Saat ini, misalnya, terdapat pesanan sekitar 15 unit untuk kebutuhan stan lampu. "Kalau Borobudur sendiri enggak ada. Memang pasarnya dari luar daerah," sebutnya.
Dia menyebut, harga produk bambu yang dijual cukup beragam, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. Untuk kap lampu berdiameter 30 sentimeter misalnya, harga sekitar Rp 100 ribu per unit. Ukuran 40 sentimeter dibanderol Rp 135 ribu, sedangkan diameter 50 sentimeter mencapai Rp 200 ribu.
Heri juga pernah membuat kap lampu berukuran jauh lebih besar, mencapai diameter 1,2 meter. Produk pesanan pelanggan Bali itu dihargai sekitar Rp 1,2 juta per unit. Untuk kap lampu, produk yang dikirim biasanya belum dilengkapi bola lampu. Heri hanya menyertakan fitting. "Kalau lampu tergantung di sana nanti mau dikasih apa. Kalau dari sini takutnya saat pengiriman pecah atau putus," jelasnya.
Produk rumah tangga lainnya juga memiliki pasar. Selain sendok, Heri membuat piring, mangkuk, cangkir, teko, meja hingga kursi. Salah satu kursi bambu buatannya dijual sekitar Rp 400 ribu. Kursi tersebut dirancang untuk menahan beban sekitar 80-90 kg.
Di balik bentuk sederhana kap lampu, proses pembuatannya tidak sesederhana yang terlihat. Sebelum digunakan, iratan terlebih dahulu direndam dalam air garam sekitar 12 jam. Setelah itu dijemur hingga kering.
Baca Juga: Sempat Absen karena Sakit Punggung, Pedro Caracoci Diharapkan Segera Pulih dan Perkuat PSS Sleman
Setelah bahan siap, proses pembuatan dimulai dengan menyambung iratan. Sambungan itu kemudian dibuat menjadi gulungan atau coil. Gulungan dibentuk menggunakan tangan sesuai ukuran dan desain. Setelah bentuk terbentuk, bagian-bagian tersebut direkatkan menggunakan lem putih.
Tahap berikutnya adalah pendempulan, pengamplasan, kemudian finishing. Proses pendempulan dan pengamplasan dilakukan kembali untuk memperoleh permukaan yang lebih halus sebelum dilapisi finishing clear.
Untuk kap lampu diameter 30 sentimeter, Heri bersama pekerjanya mampu menghasilkan sekitar tiga hingga enam unit dalam sehari, tergantung proses dan tingkat kesulitannya. Saat ini, ia dibantu tiga orang dalam menjalankan produksi.
Salah satu hal yang membuat usaha Heri tetap bisa bertahan adalah ketersediaan bahan baku di sekitar Borobudur. Ia menggunakan, terutama bambu apus. Bambu hitam juga bisa digunakan, tetapi memiliki karakter berbeda dan cenderung lebih banyak mengalami penyusutan setelah diproses.
Untuk bambu apus, penyusutannya relatif kecil. Jika iratan dibuat selebar dua sentimeter, setelah proses pengeringan penyusutannya disebut hanya sekitar satu milimeter. Dia berharap, kerajinan bambu ini bisa semakin mendunia. (laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja