MAGELANG – Keberadaan pohon bambu yang melimpah di Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, berhasil dimanfaatkan Heri Sutrisno menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Melalui rumah produksi Omah Pring Perkakas Rumah, iratan bambu yang dahulu identik dengan alat dapur tradisional kini ditransformasikan menjadi kap lampu, piring, mangkuk, hingga furnitur berestetika modern.
Usaha yang dikembangkan Heri berawal dari keprihatinannya pada 2017 melihat tradisi pembuat tampah khas keluarganya mulai kehilangan penerus.
Baca Juga: Tak Kunjung Pulang, Penjaring Ikan Hilang di Pantai Entak Kebumen
Titik balik pengembangan produk terjadi pada 2018 setelah berkolaborasi dengan program pengabdian masyarakat Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Melalui eksperimen mandiri, Heri mengembangkan iratan bambu dengan teknik coiling atau pilin, hingga menghasilkan kap lampu yang kini menjadi produk paling diburu pembeli.
Produk berbahan dasar bambu apus tersebut kini berhasil menembus pasar luar daerah hingga mancanegara. Bali menjadi pasar domestik terbesar dengan permintaan rutin mencapai 100 hingga 150 unit kap lampu per bulan.
Baca Juga: Sebut Demokrasi RI Alami Kemunduran, Hasto Beberkan 5 Agenda Strategis PDIP di Forum Asia
Selain itu, produk Omah Pring juga telah merambah Jogja dan diekspor ke Singapura, dengan pengiriman terbaru sebanyak 19 unit produk piring dan kap lampu pada 2026.
Proses pembuatan kerajinan bambu ini membutuhkan ketelitian tinggi. Iratan bambu harus direndam air garam selama 12 jam, dijemur, kemudian dirangkai menggunakan teknik pilin dan lem khusus sebelum melalui tahap pendempulan serta finishing clear.
Mengandalkan tiga orang tenaga kerja lokal, Omah Pring mampu memproduksi tiga hingga enam unit kap lampu diameter 30 sentimeter per hari.
Baca Juga: Menjelang Purna Tugas Sekda, Pemkab Kulon Progo Matangkan Tiga Mekanisme Pengisian Jabatan
Harga produk yang ditawarkan Omah Pring sangat bervariasi bergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran. Kap lampu dibanderol mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1,2 juta untuk ukuran jumbo berdiameter 1,2 meter.
Selain instrumen pencahayaan, Heri juga memproduksi peralatan makan hingga kursi bambu seharga Rp400 ribu, seraya berharap industri kreatif berbasis bahan baku lokal Borobudur ini terus berkembang dan semakin dikenal secara global.
Editor : Heru Pratomo