MAGELANG - Taman Kyai Langgeng (TKL) Kota Magelang terus bersolek. Sejumlah pembangunan tengah dikebut untuk mengubah wajah destinasi wisata tersebut. Mulai dari gerbang utama, loket, restoran, gedung pertunjukan budaya, hingga amfiteater.
Komisi B DPRD Kota Magelang pun meninjau proses pembangunan di TKL, Rabu (2/9). Dewan meminta pembangunan yang dibiayai penyertaan modal pemerintah daerah tersebut dikerjakan maksimal dengan kualitas yang baik. Mengingat waktu pembangunannya relatif singkat dan TKL dituntut segera memiliki daya tarik baru.
Direktur TKL Kota Magelang Sri Widodo mengutarakan, tahun ini terdapat lima kegiatan yang dibiayai melalui penyertaan modal pemkot sebesar Rp 2,5 miliar. Pembangunan difokuskan pada pembenahan bagian depan hingga fasilitas pertunjukan di bagian dalam kawasan.
Dia menyebut, pembangunan gerbang utama menjadi satu pekerjaan yang diprioritaskan. Gerbang tersebut dinilai menjadi wajah pertama yang dilihat pengunjung sehingga konsepnya dirancang lebih modern, tetapi tetap membawa identitas lokal.
"Kita konsep modernisasi tapi tidak meninggalkan kultur. Kultur kita di sini adalah Borobudur," kata Sri Widodo.
Baca Juga: 10 Fakta Menarik Enzo Fernández yang Mungkin Belum Kamu Ketahui
Konsep serupa diterapkan pada area loket. Sistem pelayanan yang sebelumnya membuat pengunjung harus mengantre panjang akan diubah menyerupai meja resepsionis. Lima meja disiapkan agar pengunjung dapat dilayani secara bersamaan di ruangan yang lebih nyaman.
Tidak hanya pintu masuk, lanjut dia, TKL juga menyiapkan pengembangan aktivitas wisata hingga malam hari. Area di sebelah gerbang akan dimanfaatkan sebagai kafe atau restoran. Area sekitar kolam renang juga akan dikembangkan untuk kuliner dan hiburan malam.
"Kita pakai juga untuk resto. Jadi untuk menarik sampai malam, ada pagelaran musik dan sebagainya," ujarnya.
Sri Widodo menambahkan, nantinya akan ada fasilitas pertunjukan atau Gedung Sasana Budaya yang ditujukan untuk kegiatan seni tradisional, seperti wayang kulit dan pertunjukan budaya lainnya. Selain itu, dibangun amfiteater yang selama ini belum dimiliki TKL secara khusus.
Baca Juga: Seleksi Hakim Agung 2026 Dianggap Cederai Independensi Peradilan, PUSDHAM UMY Desak Moratorium
Selama ini, katanya, kegiatan pertunjukan kerap menggunakan area parkir atau ruang terbuka yang tersedia. Dengan adanya amfiteater, pertunjukan akan memiliki lokasi khusus. Kapasitasnya sekitar 2.000 penonton dan masih memungkinkan dikembangkan untuk pertunjukan berskala lebih besar.
Pembenahan berikutnya adalah mengembalikan karakter TKL sebagai taman. Area depan hingga bagian dalam kawasan secara bertahap akan ditata menjadi taman bunga.
“Dulu kan di sini terkenalnya adalah taman bunga. Maka nanti dari mulai depan ini kita bongkar semua sampai ke bawah, semua nanti jadi taman bunga," terangnya.
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Magelang Waluyo menilai, pembenahan TKL harus dilakukan secara serius. Dia meminta kualitas pembangunan menjadi perhatian utama meskipun waktu pelaksanaan relatif singkat.
Baca Juga: Kuota Internet Tak Lagi Boleh Hangus, Operator Seluler Wajib Beri Pilihan kepada Pelanggan
Menurut dia, persoalan TKL bukan semata membangun sejumlah fasilitas. Tetapi bagaimana membuat destinasi tersebut benar-benar memiliki daya tarik dan mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
Karena itu, dia mendorong agar kebijakan penyertaan modal tidak dilakukan secara setengah-setengah. Jika pemerintah memang ingin menjadikan TKL sebagai satu penggerak pariwisata dan pendapatan asli daerah, investasi harus disiapkan berdasarkan kebutuhan pengembangan yang jelas.
"Kalau mau maju, ya maju sekalian, jangan tanggung-tanggung memberi penyertaan modal," tegasnya.
Waluyo menuturkan, pengembangan TKL harus dipandang sebagai investasi jangka menengah dan panjang. Bukan hanya proyek pembangunan fisik satu tahun anggaran.
Sebab, kata dia, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat TKL terlihat lebih baru. Melainkan menciptakan destinasi yang mampu menarik pengunjung, memperpanjang lama tinggal wisatawan, menggerakkan usaha di sekitarnya, sekaligus menambah pendapatan daerah.
Baca Juga: Pria Tanpa Identitas Tewas di Gardu Listrik Dekat Stasiun LRT Pancoran, Diduga Hendak Curi Kabel
"Jenenge pariwisata ngedol untuk menambah PAD. Ya akhirnya kembali pada masyarakat," bebernya. (aya)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja