Seribu Bibit Kopi Arabika Ditanam di Lereng Sumbing, Cegah Karhutla Sekaligus Bangun Ekosistem Kopi

Naila Nihayah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:29 WIB
Dirintelkam Polda Jateng didampingi stakeholder terkait saat menanam bibit kopi arabika di Desa Sukomakmur, Kajoran, Jumat (28/8).
Dirintelkam Polda Jateng didampingi stakeholder terkait saat menanam bibit kopi arabika di Desa Sukomakmur, Kajoran, Jumat (28/8).
 


MUNGKID - Sebanyak 1.000 bibit kopi arabika ditanam di lereng Gunung Sumbing, Desa Sukomakmur, Kajoran. Penanaman ini tidak sekadar memperluas budi daya kopi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus memperkuat ekosistem pertanian dan wisata.

Penanaman digelar melalui kegiatan SAPA SEMESTA. Yang merupakan hasil kolaborasi PUI PT Pascapanen Kopi dan Rempah (CoSpice) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Direktorat Intelkam Polda Jateng, PT Nestra Kottama Indonesia, pemerintah daerah, kelompok tani, dan masyarakat.

Direktur Intelkam Polda Jateg Kombes Pol Syahbuddin mengutarakan, musim kemarau menjadi momentum penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Terutama di kawasan lereng gunung yang vegetasinya mengering.
 
Baca Juga: 99 Persen Tercacah, Sensus Ekonomi Gunungkidul Dikebut

"Jangan membuka lahan dengan membakar. Yang kedua, jangan buang puntung rokok sembarangan. Yang ketiga, kita pelihara yang sudah ada supaya tidak rusak," kata Syahbuddin, Jumat (28/8).

Dia menilai, penanaman pohon juga memiliki fungsi ekologis lain. Selama ini, Lereng Sumbing didominasi tanaman hortikultura sehingga perlu diperkuat dengan tanaman yang memiliki sistem perakaran lebih kuat untuk membantu menjaga struktur tanah.

"Sayuran oke, tetapi harus ada tanaman yang menambah kekuatan untuk menahan lereng ini," ujarnya.

Dia menambahkan, tanaman kopi dikembangkan dengan karakter geografis Sukomakmur. Desa tersebut berada di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang dinilai sesuai untuk pengembangan kopi arabika.
 
Baca Juga: Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek, Pengemudi dan Penumpang Selamat

Ketua PUI PT Pascapanen Kopi dan Rempah Unnes, Eka Yuli Astuti mengatakan, meski ditanam pada musim kemarau, namun ada teknologi yang bisa menjadi solusi. Sehingga harapannya tidak mengganggu proses produksi kopi.

"Teknologi itu tidak mengenal musim. Mau kemarau, musim penghujan, kita harapkan dengan teknologi ini akan membantu," katanya.

Satu teknologi yang disiapkan adalah pengairan untuk menjaga bibit tetap hidup selama periode kering, baik menggunakan sistem tetes maupun penyemprotan. Bibit yang ditanam kali ini merupakan kopi arabika varietas Sigarar Utang yang telah bersertifikat dan berlabel.
 
Baca Juga: Wisata Pantai dan Kafe Viral Dongkrak Kunjungan Wisatawan di Kulon Progo Hingga 1,8 Juta Orang

Eka menyebut, ketinggian Sukomakmur menjadi satu alasan arabika dipilih. Pada elevasi tinggi, kopi arabika memiliki kondisi lingkungan yang mendukung pembentukan kualitas biji. Sebaliknya, untuk kawasan dengan ketinggian lebih rendah, jenis robusta dinilai lebih sesuai.

"Semakin tinggi kopi untuk arabika, kualitasnya seperti density, tingkat kerapatan, kemudian zat haranya mencukupi sehingga kualitas kopinya akan bagus," jelasnya.

Dia menlanjutka, program tersebut dirancang tidak berhenti pada pembagian bibit. Petani juga disiapkan dengan dukungan teknologi pengolahan hingga akses pasar.
 
Baca Juga: Atasi Dampak Kemarau, Astra Motor Yogyakarta Salurkan Bantuan 20 Tangki Air Bersih ke Gunungkidul

Eka mengatakan, Unnes bersama mitra akan mendorong pembangunan Nestra Coffee Academy, sebagai tempat pelatihan kopi sekaligus teknologi pengolahan. Kebutuhan awal yang dinilai penting yakni mesin huller dan pulper.

Setelah kopi dipanen dan diolah, petani juga tidak perlu khawatir mengenai pemasaran. PT Nestra Kottama Indonesia disiapkan sebagai offtaker atau pembeli hasil produksi petani.

"Silakan ditanam, panen, jangan khawatir, langsung serahkan ke Nestra, dibayar tunai. Mau mengolah silakan diolah sendiri, alatnya ada di sini," tegasnya.

Rencananya, kawasan tersebut juga akan dilengkapi rumah pengeringan atau solar dryer yang menggunakan teknologi ramah lingkungan. Pola tersebut diharapkan membuat pengembangan kopi tidak berhenti sebagai program bantuan bibit, tetapi membentuk rantai usaha.
 
Baca Juga: Atasi Dampak Kemarau, Astra Motor Yogyakarta Salurkan Bantuan 20 Tangki Air Bersih ke Gunungkidul

Sementara itu, Direktur PT Nestra Kottama Indonesia, Sigit Ismaryanto mengatakan, kondisi Sukomakmur yang kering dan memiliki keterbatasan air membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap sumber api.

Sigit juga mendorong pengelolaan sampah agar tidak dilakukan dengan membakar sembarangan. Di kawasan tersebut, Nestra telah membuat percontohan tungku pengasap untuk mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka.

"Langkah tersebut menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat sekaligus upaya mengubah kebiasaan yang berpotensi memicu kebakaran," lontarnya.
 
Baca Juga: Kondisi Membaik, Pelajar Korban Pengeroyokan di Pantai Sepanjang Kembali Bersekolah

Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudiyanto menuturkan, penanaman 1.000 pohon menjadi bagian dari komitmen lintas sektor menghadapi ancaman bencana ekologis.

Terlebih, Gunung Sumbing memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat, termasuk sebagai kawasan penyangga sumber air dan kesuburan tanah. Karena itu, keberlanjutan program menjadi tantangan setelah kegiatan penanaman selesai.

"Pohon yang kita tanam harus kita jaga pertumbuhannya, dan kawasan hutan yang kita bersihkan harus terus kita pertahankan kelestariannya," terang David. (aya)
 
 
Editor : Heru Pratomo
bibit kopi cegah karhutla lereng Sumbing Desa Sukomakmur kopi arabika