KEBUMEN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen memberikan materi sekaligus praktik penanganan bencana kepada penyandang disabilitas, Rabu (26/8). Kegiatan yang berlangsung di kompleks Kantor Kecamatan Pejagoan itu sengaja digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan bagi kelompok rentan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kebumen Luhur Rahpinuji mengatakan, kelompok disabilitas tidak boleh dilupakan dalam upaya mitigasi atau penanganan bencana. Justru dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka perlu diprioritaskan karena memiliki kerentanan. "Paling tidak disabilitas punya pemahaman ketika terjadi bencana harus berbuat apa," ucapnya kepada Radar Jogja.
Baca Juga: Upaya Memperkuat Ekosistem Pariwisata di Kawasan Borobudur, Parade 200 VW Jelajahi Desa Wisata
Dalam kegiatan itu 32 peserta penyandang disabilitas mendapatkan banyak ilmu. Mereka langsung diberi pemahaman secara utuh terkait langkah yang perlu dilakukan ketika sebelum, saat maupun pascaterjadi bencana. Pendekatan materi yang disampaikan tetap memperhatikan setiap kebutuhan penyandang disabilitas.
Peserta juga diberi pemahaman mengenai cara berkomunikasi dan berkoordinasi ketika terjadi situasi darurat. Selain mendengarkan materi, peserta diajak untuk praktik di lapangan. Praktik yang diberikan fokus terhadap upaya penyelamatan diri dan evakuasi.
Luhur menambahkan, selama kegiatan kelompok difabel tidak sebatas ditempatkan sebagai korban, tetapi juga menjadi aktor pengetahuan terkait kebencanaan. Diharapkan lewat bekal ilmu yang diperoleh selama kegiatan, nantinya dapat ditularkan kepada disabilitas lain. "Kelompok difabel memang perlu mendapat perhatian khusus. Agenda ini kami lakukan secara berkelanjutan," katanya.
Baca Juga: PN Jogja Gugurkan Status Tersangka Reno dan Kuwat; Hakim Sebut Kejati DIY Gagal Tunjukkan Sprindik
Ketua Sahabat Disabilitas Kebumen (SDK) Teguh Kuatno merespon positif inisiasi BPBD yang melibatkan penyandang disabilitas terkait kebencanaan. Menurutnya, kaum difabel di Kebumen jumlahnya cukup banyak. Tidak semua dari mereka memiliki pemahaman dalam bertindak ketika terjadi bencana. Menurutnya, keterbatasan akses pendengaran, penglihatan serta mobilitas menjadi tantangan tersediri saat proses evakuasi penyandang disabilitas. "Kelompok rentan bukan cuma lansia, kami juga. Tuna daksa, netra dan tuli perlu penangaan khusus kalau ada bencana," ujarnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita