MAGELANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang mendorong penguatan perlindungan anak, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Hal ini seiring meluasnya akses terhadap media sosial (medsos) dan berbagai permainan digital yang berpotensi memengaruhi pola pikir serta perkembangan psikologis mereka.
Kepala Disdikbud Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho mengatakan, tantangan perlindungan anak semakin kompleks seiring mudahnya akses terhadap media sosial dan permainan daring. Berbagai konten dapat diakses hanya melalui perangkat digital, sementara tidak semuanya sesuai dengan usia maupun tahap perkembangan anak.
Karena itu, orang tua perlu aktif menentukan batasan terhadap konten yang boleh diakses anak. Pendampingan juga harus dilakukan dengan memahami aktivitas anak saat menggunakan perangkat digital. “Apa yang boleh dibuka, apa yang tidak boleh,” kata Nurwiyono, Minggu (23/8).
Baca Juga: Pawai Budaya Giwangan Angkat Potensi Warga dan UMKM, Hadirkan Peserta dari 13 RW dan Produk Lokal
Dia menegaskan, pengawasan tidak berarti orang tua harus selalu melarang anak menggunakan ponsel. Sebaliknya, orang tua perlu memahami konten yang dikonsumsi dan memastikan penggunaan teknologi memberikan manfaat bagi perkembangan anak.
Perhatian khusus juga perlu diberikan terhadap permainan digital yang mengandung unsur kekerasan. Pengawasan dibutuhkan agar anak tidak mendapatkan paparan yang berpotensi memengaruhi pola pikir dan perkembangan psikologisnya.
Baca Juga: Jonatan Christie Berpeluang Rebut Ranking 1 Dunia Usai Kejuaraan Dunia 2026
Nurwiyono mendorong orang tua memilihkan konten yang sesuai dengan usia anak. Teknologi, kata dia, tetap dapat menjadi sarana belajar apabila digunakan secara tepat. “Anak-anak itu harus diberikan yang mendidik, yang bisa memantau cara berpikir kritis dan kecepatan berpikir,” ujarnya.
Selain pengawasan di ruang digital, penguatan pendidikan karakter dinilai menjadi benteng penting bagi anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk belajar mengenai nilai, perilaku, tanggung jawab, serta cara berinteraksi dengan orang lain.
Di lingkungan sekolah, pendidikan karakter juga terus diperkuat melalui berbagai program. Di antaranya budaya sekolah aman dan nyaman, sekolah ramah anak, gerakan sekolah menyenangkan, hingga sekolah antikekerasan.
Nurwiyono berharap, perlindungan anak dilakukan secara bersama-sama oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif, baik yang berasal dari lingkungan sekitar maupun dunia digital. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita