Ruwat Rawat Menoreh Bawa Pesan Jaga Alam Sekaligus Jadi Ruang Kenalkan Potensi Desa Ngargoretno

Naila Nihayah • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:00 WIB
MERIAH: Warga berduyun-duyun menyaksikan Ruwat Rawat Menoreh di Desa Ngargoretno, Salaman Minggu (23/8). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

 
MERIAH: Warga berduyun-duyun menyaksikan Ruwat Rawat Menoreh di Desa Ngargoretno, Salaman Minggu (23/8). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)  

MAGELANG - Warga Desa Ngargoretno, Salaman kembali menggelar Ruwat Rawat Menoreh untuk keenam kalinya Minggu (23/8). Merti desa tersebut tidak hanya sekadar ungkapan syukur, tetapi juga menjadi pesan untuk menjaga lingkungan lereng Menoreh.

Kirab dimulai dari kawasan perbatasan Kecamatan Borobudur-Salaman menuju Desa Ngargoretno sepanjang tiga kilometer. Sebanyak 12 kelompok kesenian dari enam dusun turut ambil bagian dalam arak-arakan tersebut.

Baca Juga: Praperadilan Jadi Bahan Evaluasi Dinar Kripsiaji, Fokus Petakan Kasus Dana Hibah Pariwisata

Gunungan yang dibawa warga berisi berbagai hasil pertanian, mulai sayuran hingga umbi-umbian. Sesampainya di lokasi, gunungan kemudian digerebek warga sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa agar kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan Menoreh tetap terjaga.

Panitia Ruwat Rawat Menoreh Soim mengatakan, tradisi tersebut sengaja dikemas dengan memadukan unsur budaya, lingkungan, dan potensi lokal. Hubungan masyarakat dengan alam menjadi pesan utama yang terus diwariskan melalui kegiatan tahunan tersebut.

Ruwat Rawat Menoreh tahun ini berlangsung selama tiga hari. Mulai Jumat malam hingga Minggu malam. Selain kirab dan gerebek gunungan, rangkaian kegiatan diisi mujahadah dan doa bersama, pentas kesenian tradisional, hingga pertunjukan wayang kulit sebagai penutup.

Baca Juga: Alprazolam Obat Anti Panik yang Sering Disalahgunakan, Konsumsi Berlebih Bisa Sebabkan Kejang-Kejang

Menurut Soim, keterlibatan 12 kelompok kesenian dari enam dusun sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan kesenian yang tumbuh di masing-masing wilayah. Salah satu potensi yang diperkenalkan tahun ini adalah replika Ufo Menoreh. Destinasi wisata edukasi tersebut mulai dikembangkan sebagai bagian dari konsep edukasi geologi kawasan Menoreh di bawah naungan Museum Alam Marmar Indonesia.

Replika tersebut tidak hanya diarahkan sebagai spot wisata, tetapi juga sarana memperkenalkan karakter batuan dan sejarah geologi kawasan Menoreh kepada pengunjung. “Ufo Menoreh ini kami bikin sebagai destinasi berbasis eduwisata,” beber Soim.

Dia berharap, kekayaan alam Ngargoretno dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran geologi sekaligus menjadi daya tarik wisata baru. Pengembangan destinasi tersebut mulai dilakukan tahun ini.

Baca Juga: Kisah Tukang Becak Desil 9, Kini Bingung Sekolahkan Anaknya karena Dianggap Mampu

Kepala Desa Ngargoretno Dodik Suseno mengatakan, Ruwat Rawat Menoreh merupakan bagian dari upaya mempertahankan kesadaran warga terhadap lingkungan. Tradisi tersebut telah digelar selama enam tahun berturut-turut. “Kita merawat bumi lereng Menoreh agar tetap hijau, asri, kecukupan air, dan murah rezeki secara berkelanjutan,” beber Dodik.

Menurutnya, keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Ngargoretno. Karena itu, merti desa tidak berhenti pada ritual budaya, tetapi juga membawa pesan agar warga bersama-sama menjaga kawasan Menoreh sebagai sumber kehidupan. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Desa Ngargoretno Ruwat Rawat Menoreh kecamatan borobudur-Salaman menoreh merti desa