Lapas Kelas IIA Magelang Overkapasitas 292 Persen, Kapasitas 221 Orang Dihuni 644

Naila Nihayah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 05:06 WIB
Jumlah napi dan tahanan di Lapas Kelas IIA Magelang sudah melebihi kapasitas.
Jumlah napi dan tahanan di Lapas Kelas IIA Magelang sudah melebihi kapasitas.

 

 

 

MAGELANG - Jumlah penghuni Lapas Kelas IIA Magelang kini mencapai 644 orang, terdiri atas sekitar 474 narapidana (napi) dan 170 tahanan. Angka tersebut jauh melampaui kapasitas ideal lapas yang hanya mampu menampung 221 orang.

Kepala Lapas Kelas IIA Magelang Agung Supriyanto mengutarakan, kondisi tersebut membuat tingkat hunian lapas mencapai 292 persen dari kapasitas yang tersedia. Itu berarti, kata dia, jumlah penghuninya hampir tiga kali lipat dibanding daya tampung ideal.

"Semua total 644 orang. Sementara kapasitas kami hanya 221, maka kami mengalami over 292 persen dari kapasitas sesungguhnya," kata Agung, Senin (17/8).

Baca Juga: Lahan Seluas 2.000 Meter Persegi di Sleman Kembali Terbakar, Diduga karena Pembakaran Sampah

Dari total penghuni tersebut, lanjut Agung, sebanyak 170 orang berstatus tahanan. Sisanya, sekitar 474 orang, merupakan napi yang telah memiliki putusan pidana. Dia mengatakan, kondisi kelebihan penghuni tersebut praktis menjadi satu tantangan dalam pelaksanaan pembinaan.

Meski demikian, lapas tetap menjalankan dua program utama bagi napi, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian sebagai bekal sebelum mereka kembali ke masyarakat.

Pembinaan kepribadian mencakup aspek keagamaan, psikologis, serta berbagai kegiatan yang mendorong perubahan perilaku. Kegiatan tersebut antara lain hadrah, pramuka, hingga program one day one juz bagi warga binaan Muslim.

Baca Juga: Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Surati Presiden Prabowo, Minta Restitusi dan Usut Tuntas

 Pembinaan juga diberikan kepada warga binaan non-Muslim. Lapas Magelang, misalnya, bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi Katolik untuk menyelenggarakan program Diploma 1 Teologi.

Menurut Agung, pembinaan pendidikan juga menjadi bagian penting agar napi tetap memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas diri selama menjalani pidana. Lapas bekerja sama dengan SPNF SKB Kota Magelang untuk menyelenggarakan program kesetaraan Paket B dan C. "SKB SPNF ini gratis, jadi tidak berbiaya. Termasuk nanti yang sekolah teologi," ujarnya.

Selain pembinaan kepribadian, lapas menjalankan program kemandirian untuk mempersiapkan napi menghadapi kehidupan setelah bebas. Pembinaannya diarahkan pada dua bidang utama, yakni pengembangan UMKM serta program ketahanan pangan.

Baca Juga: Hardjuno: Indonesia Perlu Kembali Menemukan Arah Pembangunan Ekonomi Kerakyatan

Di bidang ketahanan pangan, warga binaan dilibatkan dalam kegiatan pertanian dan peternakan. Lapas juga mengembangkan konsep integrated farming, termasuk memanfaatkan limbah atau kotoran untuk kebutuhan lain seperti pakan maupun budidaya maggot.

Sementara pengembangan keterampilan disesuaikan dengan bakat dan minat warga binaan. Sejumlah produk kerajinan seperti relief, miniatur, hingga kerajinan berbahan batu alam menjadi bagian dari kegiatan tersebut. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
overkapasitas one day one juz napi lapas kelas IIA magelang tahanan