Warga Sambeng Upacara di Atas Getek, Ajak Jaga Alam dengan Tebar Bibit Ikan dan Tanam Vetiver

Naila Nihayah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:07 WIB
Warga melakuka upacara HUT ke-81 RI di kawasan Wisata Getek Balong, Sambeng, Senin (17/8).
Warga melakuka upacara HUT ke-81 RI di kawasan Wisata Getek Balong, Sambeng, Senin (17/8).

 

 

MUNGKID - Warga Sambeng, Borobudur memiliki cara unik dalam mengemas upacara peringatan HUT ke-81 RI. Mereka menggelarnya di atas getek di kawasan Wisata Getek Balong, Dusun Gleyoran, Sambeng. Rangkaiannya tidak hanya pengibaran bendera, tetapi juga pelestarian lingkungan dan budaya.

Prosesi pengibaran Merah Putih berlangsung di tengah Sungai Progo. Tiga warga perempuan Dusun Gleyoran dilibatkan dalam prosesi tersebut. Masing-masing yakni Uswatun sebagai pembawa bendera serta Asniyah dan Arum sebagai petugas pengerek.

Ketua panitia, Siti Nurhidayah mengutarakan, pelaksanaan upacara di sungai telah menjadi agenda tahunan warga dan tahun ini memasuki tahun keempat. Pemilihan Sungai Progo sebagai lokasi upacara tidak terlepas dari keberadaan getek yang menjadi satu ciri kawasan tersebut.

Baca Juga: Pieter Huistra Optimistis PSS Sleman Tatap Kompetisi Musim 2026/2027

Melalui kegiatan tersebut, warga ingin mengenalkan kembali getek sebagai bagian dari budaya sekaligus memperkenalkan potensi sungai sebagai kawasan wisata. "Kalau di sini memang ikonnya getek. Mungkin getek sudah mulai hilang, kita ingin melestarikannya," katanya, Senin (17/8).

Rangkaian kegiatan, lanjut dia, dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih sungai bersama Lembaga Penanggulangan Risiko Bencana (LPRB). Warga juga melakukan penanaman rumput vetiver sebagai satu upaya mencegah erosi di sekitar kawasan sungai. Selain itu, panitia menyiapkan penebaran bibit ikan ke Sungai Progo.

Nurhidayah menyebut, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mengajak warga menjaga ekosistem sungai, bukan sekadar memanfaatkannya sebagai lokasi kegiatan atau wisata. "Ternyata sungai bisa kita kelola untuk wisata, edukasi, dan sebagainya," ujarnya.

Baca Juga: Gelandang Anyar PSS Sleman Melvyn Lorenzen Belum Bisa Patok Target Super League 2026/2027

Berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, peringatan kemerdekaan kali ini juga diwarnai penampilan tari anak-anak di atas getek. Mereka menampilkan tari Warokan dengan penampilan yang memukau.

Dia menjelaskan, latihan digelar setiap malam setelah mengaji selama sekitar satu jam. "Mereka awalnya memang bukan penari, tapi kita minta dan ternyata mereka mau latihan," bebernya.

 Baca Juga: Kejar Pendapatan Asli Daerah, Sleman Kaji Peningkatan Biaya Sewa Rusunawa

Menurutnya, pelestarian lingkungan dan budaya tidak bisa hanya mengandalkan generasi sekarang. Anak-anak perlu dikenalkan secara langsung dengan potensi alam dan tradisi yang ada di lingkungan mereka.

Nurhidayah berharap, kegiatan yang digelar setiap tahun tersebut dapat terus berjalan dan tidak berhenti sebagai perayaan kemerdekaan semata.

Sebab dapat menjadi ruang untuk mempertemukan upaya pelestarian lingkungan, pengenalan budaya lokal, dan pengembangan wisata berbasis masyarakat. "Harapannya alam kita lebih lestari, budaya juga bisa dilestarikan, dan anak-anak sejak dini lebih peduli terhadap lingkungan," paparnya. (aya/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
wisata getek Borobudur Magelang tebar bibit ikan Sambeng