MAGELANG - Pemkot Magelang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau bahan bakar alternatif melalui skema waste to energy atau refuse derived fuel (RDF). Langkah itu disiapkan untuk mengejar target zero waste pada akhir 2026.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, tingkat pengelolaan sampah di wilayahnya saat ini telah mencapai 95,7 persen. Namun, angka tersebut masih menyisakan sekitar 4,3 persen sampah yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan masyarakat.
Sampah yang belum tertangani itu, kata dia, berisiko dibakar secara terbuka atau dibuang sembarangan, termasuk ke sungai. Jika tidak segera ditangani, persoalan tersebut bukan hanya berdampak pada kebersihan kota, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan.
Baca Juga: Wajiran Kembali Jabat Lurah Srimulyo Pasca-Bebas dari Kasus Korupsi TKD, Langsung Ditugaskan Ini
"Kota Magelang sudah 95,7 persen. Tinggal 4,3 persen ini yang harus kita selesaikan. Jangan sampai masih ada sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai," kata Damar di Ruang Sidang Lantai 2 Setda Kota Magelang, Kamis (13/8).
Pemkot menargetkan sisa persoalan tersebut dapat ditekan hingga mencapai kondisi zero waste pada akhir tahun ini. Untuk mencapainya, dia menilai, persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan menambah armada pengangkutan.
"Penyelesaian persoalan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu," ujarnya.
Baca Juga: Sepekan usai Dugaan Keracunan MBG, Dua Siswa SMPN 3 Candimulyo Pulih, Tujuh Masih Dirawat
Karena itu, berbagai fasilitas pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Seperti bank sampah, kampung mandiri sampah, TPS 3R, transfer depo hingga fasilitas pengolahan lainnya harus ditempatkan dalam satu sistem.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat perlunya penguatan pengelolaan di hilir. Sistem pengangkutan dari lingkungan warga harus disesuaikan dengan kemampuan fasilitas pengolahan yang tersedia, termasuk kapasitas TPST Regional.
Alokasi kapasitas TPST Regional disebut mencapai sekitar 80 ton sampah per hari. Dengan kondisi tersebut, pemkot ingin mengubah paradigma pengelolaan sampah. Sampah tidak lagi sekadar dikumpulkan kemudian dibuang, tetapi sebanyak mungkin dikurangi dan diolah.
Baca Juga: Catat! WJNC Bakal Digelar Sepekan Penuh Tahun Ini, Usung Konsep Festival, Hadirkan Beragam Agenda
Damar menambahkan, kebutuhan terhadap teknologi pengolahan semakin penting karena Kota Magelang menghasilkan sampah sekitar 90-100 ton per hari. Volume itu akan terus menjadi tantangan apabila tidak diimbangi sistem pengurangan dan pengolahan yang memadai.
Satu opsi yang mulai dibuka adalah waste to energy maupun RDF. Teknologi tersebut, kata dia, pada prinsipnya memungkinkan sampah tertentu yang telah melalui proses pengolahan dimanfaatkan menjadi sumber energi atau bahan bakar alternatif.
Pemkot juga membuka ruang bagi pihak lain untuk ikut terlibat dalam pengembangan sistem tersebut. Kolaborasi dinilai penting karena pengelolaan sampah membutuhkan dukungan teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga perubahan perilaku masyarakat. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo