SEMARANG – Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren 2026 yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka peluang lebih luas bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengejar cita-cita.
Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan kuliah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri agar memiliki kompetensi di berbagai bidang.
Salah satu penerima manfaatnya adalah Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini berkesempatan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Aqila memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang cukup kuat. Ia sebelumnya menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu'ul Qur'an 2 Muria, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA) Mu'allimat NU Kudus.
Baca Juga: Lautan Manusia di RW 57 Jurugsari, Ketika Senam Sehat HUT RI Satukan Mahasiswa, Seniman, dan Lansia
Keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sempat terbentur persoalan biaya, terutama tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Kondisi tersebut membuat program beasiswa Pemprov Jateng menjadi angin segar bagi Aqila dan keluarganya.
Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, Aqila harus melewati sejumlah tahapan seleksi. Prosesnya meliputi seleksi administrasi, kemampuan membaca kitab, hafalan Al-Qur'an, wawasan kebangsaan, serta wawasan pesantren.
Setelah dinyatakan lolos, Aqila akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di jurusan yang telah menjadi impiannya sejak kecil.
Ia mengaku bersyukur karena beasiswa tersebut tidak hanya meringankan beban ekonomi keluarganya, tetapi juga membantunya mewujudkan cita-cita menjadi tenaga medis.
Aqila berharap kelak dapat menjadi dokter gigi yang mengedepankan profesionalisme, integritas, nilai keagamaan, dan kemanusiaan.
“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” ujarnya dalam acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 serta Penandatanganan Naskah Kerja Sama Pemprov Jateng dengan Ma'had Aly di Gedung Merah Putih Semarang, Rabu (12/8).
Ingin Mengabdi di Pesantren
Aqila turut mengapresiasi program beasiswa yang diberikan Pemprov Jateng. Ia berharap program tersebut dapat terus dikembangkan, baik dari sisi jumlah penerima maupun pilihan jurusan yang tersedia.
Sebagai bentuk komitmen setelah menyelesaikan pendidikan, Aqila berencana mengabdikan ilmu yang diperolehnya di Pondok Pesantren El Fat El Islami Kudus.
Ia juga mengajak para santri di berbagai daerah untuk tidak takut memiliki cita-cita tinggi. Menurutnya, latar belakang pesantren bukan penghalang untuk menekuni berbagai bidang keilmuan.
Kesempatan serupa juga dirasakan Akhmad Khafidz Al Mubarok, penerima beasiswa lainnya. Ia mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan S1 bidang sains dan teknologi di Dalian University of Technology, China.
Khafidz memilih jurusan Computer Science and Technology karena ketertarikannya terhadap teknologi telah tumbuh sejak kecil. Ia berharap ilmu tersebut dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Baca Juga: Gelombang Tinggi 5 Meter Terjang Perairan Kulon Progo, Nelayan Pantai Trisik Beralih Jadi Petani
“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Saya memilih jurusan Computer Science and Technology karena sejak kecil sudah berminat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi, yaitu China,” ungkapnya.
Total Beasiswa Capai Rp8,34 Miliar
Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Penyaluran beasiswa dilakukan melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP). Program tersebut mencakup pendidikan jenjang S1, S2, hingga S3 di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.
Pada 2026, total hibah beasiswa yang disalurkan mencapai Rp8,34 miliar dengan jumlah penerima sebanyak 73 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 orang mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, 27 santri memperoleh beasiswa perguruan tinggi dalam negeri, serta 31 pengasuh pesantren menerima beasiswa dalam negeri.
Untuk penerima beasiswa luar negeri, rinciannya terdiri atas tiga santri bidang sains dan teknologi yang berkuliah di China, delapan santri ke Mesir, tiga santri ke Al-Ahqof Yaman, serta satu santri yang mengikuti program double degree.
Delapan penerima beasiswa yang kuliah di Mesir terdiri atas satu mahasiswa bidang kedokteran di Al-Azhar dan tujuh mahasiswa bidang keislaman.
Program tersebut dirancang untuk memperluas kompetensi santri. Mereka tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga didorong menguasai berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, sains, teknologi, dan bidang lainnya.
Dengan demikian, santri diharapkan mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan dan mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat.
Baca Juga: KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DIY NOMOR 33/K/DPRD/2026
Ahmad Luthfi Dorong Santri Lebih Percaya Diri
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta para penerima beasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi masing-masing.
Menurutnya, santri memiliki keunggulan tersendiri karena mendapatkan pendidikan agama sekaligus pengetahuan umum.
“Saya memberikan beasiswa kepada kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih. Santri diajarkan tentang toleransi beragama dan berbagai aturan tentang kebenaran,” kata Luthfi.
Ia menegaskan, program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren perlu terus diperluas. Luthfi juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah untuk ikut mengambil bagian dalam pengembangan program tersebut.
“Program ini harus dijadikan role model. Jadi, tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota juga nanti kita ikut sertakan, sehingga pemberdayaan pesantren bisa dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Pemprov Jateng sekaligus menandatangani nota kesepahaman dengan 24 Ma'had Aly, yakni lembaga pendidikan tinggi yang berada di lingkungan pondok pesantren.
Program beasiswa ini diharapkan menjadi jembatan bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sekaligus memperluas kontribusi mereka di berbagai bidang profesional.