KEBUMEN - Peternak unggas di Kebumen kelimpungan dengan meroketnya harga pakan. Kenaikan ongkos produksi yang semakin tak terkendali membuat para peternak terancam merugi.
Ketua Forum Peternak Unggas Bersatu (FPUB) Kebumen Juniadi Prasetyo menyampaikan, peternak hari ini dihadapkan dengan berbagai persoalan pelik. Setelah dicermati muara permasalahan muncul akibat harga pakan yang belakangan terus merangkak naik.
Kondisi tersebut tidak begitu menguntungkan bagi peternak karena kenaikan harga pakan tidak selalu diikuti peningkatan harga jual telur maupun ayam.
Baca Juga: Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Ingin Bangun Tim yang Kompetitif
"Sekarang yang bertahan pengusaha besar karena uupunya modal besar. Itu pun saya kira ikut pusing dengan iklim hari ini," ungkapnya kepada Radar Jogja, Selasa (11/8).
Juniadi menyatakan, pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya pemeliharaan unggas. Di saat harga pakan tak terkendali, otomatis ongkos produksi bakal ikut terkerek. Situasi ini menjadi mimpi buruk bagi peternak karena berpotensi menggerus modal usaha akibat margin keuntungan semakin menipis.
"Dua bulan lalu, beberapa pengusaha gulung tikar. Tidak kuat harga pakan, permintaan telur juga fluktuatif," kata Juniadi yang juga peternak puyuh itu.
Baca Juga: Mentan Amran Siapkan Aturan Baru agar Buruh Tani Bisa Dapat Alsintan
Dia menyebut, sebelumnya satu kantong pakan ternak berukuran 50 kilogram dibanderol dengan harga Rp 350 ribu, namun dalam beberapa waktu harga naik secara bertahap hingga menyentuh Rp 410 ribu per sak.
Di tengah kondisi ini tak jarang peternak terpaksa menjual sebagian unggas hanya untuk membeli pakan. "Suplai pakan dari pabrik, kami ikut sana. Kalau harga naik terus, bingung muter uangnya," jelasnya.
Salah satu peternak ayam ras Jangker Prakoso menyatakan, iklim usaha ternak unggas saat ini sedang tidak baik-baik saja. Adanya surplus telur dan naiknya harga pakan membuat para peternak semakin tak berdaya.
Baca Juga: Jalan Dekso-Plono Hingga Penataan Alwa Masuk Program Prioritas Pemkab Kulon Progo
Dia meminta pemerintah segera melakukan intervensi terkait stabilitas harga pakan maupun harga telur. Langkah ini dinilai penting bagi keberlangsungan usaha peternak sekaligus menjaga pasokan pangan. "Harga pakan sudah hampir Rp 400 ribu, tidak nutup kalau jual telur Rp 21 ribu," ucapnya.
Jangker menjelaskan, harga telur di tingkat peternak idealnya dibanderol Rp 24 ribu – Rp 25 ribu per kilogram. Selagi harga masih dibawah itu, ancaman kerugian akan selalu menjadi momok terbesar bagi peternak.
Dia memprediksi banyak peternak akan menghentikan aktivitas usahanya jika pemerintah tak mampu memberikan kepastian harga telur maupun pakan. "Persoalannya kompleks, kalau tidak disikapi kasihan peternak," ucapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo