KEBUMEN - Kegundahan hati Susi Arinawati, 45, tak lagi terbendung. Setelah mengetahui anaknya diduga menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah. Ia kemudian memutuskan mengambil langkah hukum dengan melaporkan kejadian yang dialami anaknya ke Polres Kebumen.
Dengan didampingi penasehat hukum, ia terpaksa membuat aduan ke Polres Kebumen, Selasa (11/8). Menurut Susi, keputusan untuk menempuh jalur hukum bukan perkara mudah. Namun, ia memutuskan untuk melangkah lebih jauh karena persoalan yang dihadapi tidak terselesaikan dengan baik. "Sudah mediasi, tapi hasilnya saya malah disudutkan," ucap Susi.
Sebagai seorang ibu, Susi merasa terpukul melihat anaknya menjadi sasaran aksi perundungan. Ia menjelaskan, saat ini anaknya memutuskan mogok sekolah karena diselimuti trauma cukup mendalam.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Atmosfer, Kehadiran Suporter Turut Jadi Kunci Finansial PSIM di Super League
Ia pun tak habis pikir, dalam proses mediasi sebelumnya justru dari pihak sekolah maupun keluarga pelaku menganggap peristiwa yang terjadi seolah seperti kejadian biasa. "Anak saya sekarang belum mau sekolah. Takut, disuruh sekolah cuma bilang nanti, gitu," jelasnya.
Penasehat Hukum korban Sriyanto mengatakan, dugaan aksi perundungan atau bullying yang dialami korban terjadi pada Jumat (7/8) sekira pukul 10.00. Saat itu peristiwa terjadi masih dalam suasana kegiatan belajar mengajar.
Korban yang masih duduk di bangku kelas X di salah satu SMK menjadi sasaran aksi perundungan oleh rekan satu sekolah. "Terlapor satu itu kepala sekolah dan terlapor kedua pelaku karena masih di sekolah," terangnya.
Baca Juga: HAP Telur Tak Berlaku di Daerah, Tetap Dikontrol Pasar Peternak Bermodal Besar
Peristiwa dugaan perundungan bermula ketika korban sedang antre mengambil jatah makan bergizi gratis (MBG). Tak disangka, pelaku tiba-tiba datang untuk menyeret korban. Dalam kejadian itu korban diperlakukan dengan kasar hingga berujung pemukulan. Tak hanya itu, pelaku lain juga sempat merekam aksi tersebut sebelum akhirnya viral di media sosial.
Dia belum mengetahui pasti motif dibalik aksi perudungan tersebut. Namun dari keterangan sementara peristiwa itu dipicu akibat perselisihan hubungan asmara antara korban dan pelaku. "Kalau lihat video rasanya tidak tega. Yang parah itu dilakukan pakai dengkul ke muka korban," jelasnya.
Sriyanto menaruh harapan laporan yang dibuat dapat ditindaklanjuti aparat kepolisian. Menurutnya, aksi perundungan di lingkungan sekolah tidak boleh dianggap persoalan sepele karena mestinya ruang pendidikan dapat memberikan rasa aman. "Jangan sampai terjadi lagi di sekolah tersebut dan sekolah lain," katanya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo