Gejala Kambuh, Tujuh Siswa SMPN 3 Candimulyo Magelang Kembali Dirujuk ke RSUD Merah Putih Gegara MBG

Naila Nihayah • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:22 WIB
BERDATANGAN: Sejumlah siswa kembali dibawa ke RSUd Merah Putih karena masih mengalami gejala keracunan makanan, Selasa (11/8/2026). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA) 
BERDATANGAN: Sejumlah siswa kembali dibawa ke RSUd Merah Putih karena masih mengalami gejala keracunan makanan, Selasa (11/8/2026). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA) 

 MUNGKID - Kasus dugaan keracunan makanan yang dialami siswa SMP Negeri 3 Candimulyo masih berlanjut. Setelah 26 siswa mengalami keluhan pada Jumat (7/8/2026), tujuh siswa kembali harus mendapat penanganan medis di RSUD Merah Putih Kabupaten Magelang pada Selasa (11/8/2026).

Mereka merupakan bagian dari 26 siswa yang sebelumnya mengalami mual, muntah, sakit perut hingga pusing setelah mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG). Dari tujuh siswa, empat di antaranya perlu menjalani rawat inap, sedangkan tiga lainnya masih menjalani observasi.

Kejadian pertama berlangsung Jumat (7/8). Saat itu, sebanyak 26 siswa SMPN 3 Candimulyo dari kelas VII, VIII, dan IX mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG.

Kepala SMPN 3 Candimulyo, Erna Dwi Astuti mengatakan, ada 26 siswa yang sempat mendapatkan penanganan medis di puskesmas maupun RSUD Merah Putih. Malam harinya, seluruh siswa telah diperbolehkan pulang setelah dinilai dalam kondisi stabil.

Baca Juga: Menjelajahi Wisata Pantai Jungwok Gunungkidul, Ada Kelomang Rumput Laut Hingga Ikan Hias

"Dari pihak medis barangkali sudah dinyatakan layak, bisa dirawat di rumah, istirahat di rumah," kata Erna di lokasi, Selasa (11/8).

Sekolah, lanjut Erna, tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa, termasuk ketika kegiatan belajar kembali berlangsung setelah libur akhir pekan. Meski demikian, sekolah tetap memonitor kondisi siswa. 

Ketika kegiatan sekolah kembali berlangsung pada Senin (10/8), sekolah melakukan pengecekan terhadap siswa yang sebelumnya mengalami keluhan. Dari situ diketahui masih ada enam siswa yang belum masuk sekolah.

Erna menambahkan, sekolah kemudian mencoba menanyakan kondisi mereka, termasuk keluhan yang masih dirasakan. Beberapa siswa, katanya, masih mengalami mual dan pusing sehingga disarankan beristirahat serta melanjutkan obat yang diberikan sebelumnya.

Baca Juga: Gelombang Tinggi Hampir 4 Meter Hantam Pesisir Gunungkidul, Belasan Perahu Rusak

Pada Selasa (11/8), pemantauan kembali dilakukan. Dari 26 siswa yang sebelumnya mengalami gangguan kesehatan, masih terdapat siswa yang tidak masuk sekolah. Sekolah pun kembali mendatangi rumah siswa untuk melihat langsung kondisinya.

"Memang perlu untuk penuntasan dalam pengobatan," bebernya.

Lantas, sekolah meminta bantuan ambulans desa dan kecamatan untuk membawa siswa yang masih mengalami keluhan ke RSUD Merah Putih. Alhasil, tujuh siswa segera mendapat penanganan. Empat di antaranya rawat inap.

Saat ini, kata Erna, siswa SMPN 3 Candimulyo tidak lagi menerima makanan MBG. Keputusan tersebut diambil ketika sekolah masih fokus memastikan kondisi siswa yang sebelumnya mengalami keluhan.

Baca Juga: Carabao Cup 2026/27 Dimulai, Ada Perubahan Aturan Pemain dan Jadwal Lengkap hingga Final

"Ini sementara belum ada audiens bersama. Kami masih fokus pada penanganan anak-anak," terangnya.

Kepala Bidang Penunjang RSUD Merah Putih, Rurit Obyantoro menuturkan, tujuh siswa datang secara berurutan ke rumah sakit sekitar pukul 11.50. Keluhan yang mereka rasakan masih sama dengan gejala saat kejadian pertama.

"Mual, pusing, dan ada sedikit demam. Sekarang ada yang menggigil," kata Rurit.

Para siswa tersebut ditempatkan di ruang rawat anak. Sementara penanganannya dilakukan dengan melihat kondisi masing-masing pasien. Termasuk pemberian terapi cairan dan obat-obatan sesuai gejala maupun dugaan penyebabnya.

Baca Juga: 15 Pelajar SMP-MTs Gunungkidul Berebut Gelar Terbaik di Lomba Baca Puisi Tingkat Kabupaten

Dia menjelaskan, efek akibat paparan bakteri tertentu tidak selalu berhenti setelah gejala awal mereda. Dalam kondisi tertentu, gejala dapat muncul kembali, terutama ketika daya tahan tubuh pasien menurun.

"Pada saat kami pulangkan, posisi pasien sudah stabil, mual dan muntahnya sudah hilang, keluhan serta gejalanya sudah hilang semua," ujarnya.

Rurit mengatakan rumah sakit akan berkoordinasi dengan puskesmas dan pemerintah wilayah setempat untuk memantau kondisi siswa lainnya. Apabila terjadi kekambuhan atau kondisi memburuk, pasien dapat segera kembali mendapatkan penanganan.

Meski gejala yang dialami para siswa mengarah pada dugaan keracunan makanan, penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Rurit mengatakan pemeriksaan sampel juga berkaitan dengan ketersediaan bahan yang dapat diuji. 

Baca Juga: Hasil Drawing EFL Cup Babak Kedua: Chelsea Hadapi Luton, Spurs Jumpa Charlton

"Waktu hari Jumat ternyata kami tidak bisa melakukan uji lab karena sampelnya harus muntahan dari korban," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, pemkab akan menunggu hasil evaluasi sebelum menentukan langkah perbaikan. Menurutnya, kasus tersebut harus dilihat dari sisi sistem dan tata kelola, bukan sekadar mencari pihak yang disalahkan.

"Lebih ke mungkin sistematikanya yang perlu kita evaluasi. Ada kekurangan di mana nanti kita perbaiki," paparnya.

Pemerintah daerah, lanjut dia, akan mendorong evaluasi melalui Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Magelang. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat persoalan dalam proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, maupun penyajian makanan.

Baca Juga: Chelsea Dikejutkan Drama Transfer: Zubimendi Dibanderol £78 Juta, Tosin Diincar Benfica

Grengseng juga mengingatkan, makanan merupakan sesuatu yang sensitif. Kesalahan dalam penanganan, termasuk persoalan waktu dan cara penyimpanan, dapat memengaruhi kondisi makanan.

"Karena makanan sangat sensitif. Kalau misalnya salah naruh, salah waktu itu pun bisa berubah kandungannya. Maka kami tidak bisa gegabah, kita tunggu evaluasinya dulu," tegasnya. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Candi Mulyo Candimulyo Magelang Mbg keracunan