Blonjo Warung Tonggo di Tiga Desa di Magelang Catatkan 5.483 Transaksi dengan Nilai Rp 200 Juta

Naila Nihayah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 22:22 WIB

 

Bupati Magelang bersama forkompimda saat berbelanja di Lapangan drh Soepardi.
Bupati Magelang bersama forkompimda saat berbelanja di Lapangan drh Soepardi.

 

 

 

 

MUNGKID - Dalam kurun waktu dua bulan, perputaran uang dari program Blonjo Warung Tonggo di Kabupaten Magelang menembus lebih dari Rp 200 juta. Meski baru diimplementasikan di tiga wilayah, namun program ini mulai berdampak pada ekonomi tingkat desa.

Berdasarkan laporan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disdagkop UKM) selama dua bulan sepuluh hari pelaksanaan, tercatat 5.483 transaksi dengan nilai akumulatif mencapai Rp 203.706.948.

Angka itu menunjukkan lonjakan signifikan dibanding tahap awal program yang hanya mencatat transaksi sekitar Rp 18 juta, lalu meningkat menjadi Rp 73 juta pada periode berikutnya.

Baca Juga: Jamul Senang Bisa Kembali ke Sleman Perkuat Lini Belakang PSS

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, capaian itu cukup menjanjikan, tetapi belum cukup kuat untuk langsung memperluas program ke seluruh wilayah. Dia menegaskan, evaluasi difokuskan pada pembenahan mekanisme agar program tidak menemui hambatan saat diperluas.

 "Saya minta jangan diperluas dulu. Tiga desa ini harus benar-benar matang. SOP-nya harus jalan, kendala dirumuskan, solusi disiapkan. Kalau sudah kuat, baru direplikasi," katanya, Kamis (6/8).

Tiga wilayah yang saat ini menjadi percontohan adalah Kelurahan Sawitan, Desa Mendut, dan Desa Deyangan. Ketiganya masih berada dalam tahap uji coba untuk memastikan seluruh aspek teknis berjalan efektif. Mulai dari sistem pencatatan transaksi, pola belanja ASN, hingga kesiapan warung sebagai pelaku usaha.

Baca Juga: Hasil Persija vs Arema 3-1: Macan Kemayoran Rebut Peringkat Ketiga Piala Presiden 2026

Menurut Grengseng, keberhasilan program tidak bisa hanya dilihat dari narasi atau antusiasme semata, melainkan harus berbasis data yang terukur. Dia menilai, lonjakan transaksi menjadi indikator awal bahwa intervensi kebijakan tersebut mulai bekerja.

Meski demikian, dia juga menyoroti program saat ini baru melibatkan sekitar 1.400 aparatur sipil negara (ASN). Sehingga potensi peningkatan masih sangat besar apabila cakupan diperluas.

Dalam perhitungannya, kata dia, jika setiap ASN secara konsisten membelanjakan sekitar Rp 80 ribu per bulan di warung sekitar tempat tinggal, maka akumulasi perputaran uang dapat meningkat signifikan dan berulang setiap bulan.

Baca Juga: Sebanyak 18 Organisasi Profesi Indonesia Berkoalisi Tangani TBC  di Sleman, Begini Cara Kerjanya!

"Nilainya kecil per orang, tapi kalau kolektif, dampaknya besar. Ini langsung menyentuh pelaku usaha kecil di desa," ujarnya.

Kepala Disdagkop UKM Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, program tersebut diluncurkan pada 20 Mei 2026 dan hingga kini masih difokuskan pada tiga desa percontohan. Evaluasi dilakukan untuk memastikan kesiapan sistem sebelum program diperluas ke 21 kecamatan.

"Evaluasi ini penting agar saat diperluas nanti, implementasinya tidak tersendat. Semua harus sudah teruji di tiga desa ini," terangnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
Blonjo Warung Tonggo Kabupaten Magelang mendut Lapangan drh Soepardi Grengseng Pamuji