MUNGKID - Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Magelang mulai meningkat. Untuk mengantisipasi kebakaran meluas, Polda Jawa Tengah memastikan kesiapan personel, peralatan, dan koordinasi lintas instansi dalam menghadapi potensi bencana tersebut.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Jawa Tengah Brigjen Pol Latif Usman mendatangi Polresta Magelang untuk mengecek kesiapan penanganan karhutla Rabu (5/8). Pengecekan dilakukan terhadap personel hingga berbagai peralatan pemadaman yang disiapkan menghadapi musim kemarau.
Dalam kunjungan tersebut, Latif meninjau sejumlah peralatan, mulai dari mesin pemotong (senso), mesin diesel, alat pemadam api ringan (APAR), hingga kendaraan Armoured Water Cannon (AWC). Peralatan tersebut berasal dari Polri maupun instansi pendukung seperti BPBD dan pemadam kebakaran.
Menurut Latif, kesiapan menghadapi karhutla tidak cukup hanya melalui pendataan administrasi. Seluruh peralatan harus dipastikan berfungsi dan personel mampu mengoperasikannya secara cepat ketika terjadi kebakaran. "Harus dipastikan alat berfungsi dan personel mampu mengoperasikan dengan cepat," katanya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Jateng Tampung 2.692 Siswa, Taj Yasin: Jalan Putus Rantai Kemiskinan
Selain kesiapan alat, koordinasi antarinstansi menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla. Menurutnya, kebakaran tidak dapat ditangani secara parsial, tetapi membutuhkan kerja bersama antara kepolisian, BPBD, pemadam kebakaran, hingga unsur pencarian dan pertolongan.
Latif mengatakan keterlambatan respons dan lemahnya koordinasi dapat membuat kebakaran semakin meluas. Karena itu, kesiapan juga harus dilihat dari kecepatan pengambilan keputusan serta efektivitas komunikasi antarinstansi.
Ia menambahkan, upaya pencegahan dan deteksi dini harus terus diperkuat. Terutama di wilayah dengan tutupan lahan kering maupun kawasan yang memiliki aktivitas masyarakat berpotensi memicu kebakaran.
Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri menegaskan, kesiapsiagaan akan terus dijaga selama musim kemarau. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko karhutla di wilayah Magelang. (aya)
Editor : Sevtia Eka Novarita