KEBUMEN - Seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kebumen dipastikan tetap menjadi bagian dari program makan bergizi gratis (MBG). Hal ini menyusul adanya kebijakan penutupan operasional 833 SPPG secara serentak oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Jogja dan Jawa Tengah Selatan Harsono Budi Waluyo menyatakan, SPPG di Kebumen tidak masuk dalam data 833 SPPG yang ditutup BGN.
Artinya tidak ada satu pun dapur program MBG di Kebumen yang menerima sanksi suspend atau penutupan dari BGN. "Tidak ada," jawab singkat Budi saat dikonfirmasi Radar Jogja, Rabu (29/7).
Seperti diketahui, Kepala BGN yang baru Sudaryono telah mengambil langkah tegas dengan menutup 833 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah. Total dari SPPG tersebut terdiri dari 98 di wilayah Sumatra. Kemudian, 311 di antaranya berada di wilayah Jawa dan Madura. Lalu, 424 SPPG di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Di Kebumen, berdasarkan data riil per Juni 2026 terdapat 170 SPPG dengan persebaran titik di 26 kecamatan. Dapur MBG tersebut tercatat dibawah naungan 73 yayasan.
Kebijakan peghentian operasional secara permanen pada 27 Juli 2026 ini terpaksa dilakukan karena SPPG dinyatakan belum memenuhi standar kebersihan. Langkah BGN tersebut dimaksudkan guna memastikan setiap makanan aman dikonsumsi masyarakat serta memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Dengan begitu layanan MBG diharapkan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAINU Kebumen Mukhsinun menjelaskan, hadirnya SPPG melalui program MBG telah membentuk ruang ekosistem ekonomi baru di tingkat daerah.
Baca Juga: Dinkes Kabupaten Bantul Imbau Warga Gunakan Air Bersih, Hindari Penyakit saat Kemarau
Dari perspektif ekonomi program tersebut telah membuka rantai pasok kebutuhan bahan makanan secara berkelanjutan. Di lain hal juga membuka peluang tenaga kerja yang ujungnya akan menggerakkan roda ekonomi.
Dia mengilustrasikan, jika di Kebumen terdapat 150 SPPG dengan setiap SPPG melibatkan lebih dari 70 orang pekerja, maka terdapat perputaran uang oleh sedikitnya 10 ribu orang setiap saat. Kondisi ini menurutnya menjadi kekuatan ekonoki baru di Kebumen. "Tidak sedikit warga memperoleh penghasilan dari SPPG," jelasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo