MUNGKID - Di tengah semarak tradisi Saparan atau merti dusun di Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang, terdapat satu pertunjukan yang tidak boleh absen, yakni Jaran Kepang Papat. Pertunjukan tersebut tidak hanya sekadar menjadi hiburan, melainkan ruh dari perhelatan yang telah diwariskan turun-temurun di lereng Gunung Andong.
Tradisi tahunan yang digelar setiap Rabu Pahing di bulan Safar itu berlangsung pada Rabu (29/7). Sejak pagi, suasana dusun yang mayoritas dihuni petani sayuran itu tanpak berbeda. Jalan-jalan dipadati warga, sementara setiap rumah membuka pintu lebar-lebar, menyajikan aneka hidangan layaknya hari Lebaran.
Kegiatan ini diawali arak-arakan gunungan hasil bumi, ingkung, dan tumpeng. Lalu, diadakan doa bersama yang dipimpin oleh sesepun dusun. Setelah itu, barulah sekitar pukul 11.30, warga mulai berkumpul menyaksikan pertunjukan Jaran Kepang Papat di halaman rumah.
Sesepuh dusun setempat, Sunoto mengatakan, kesenian tradisional tersebut menjadi pembuka wajib dalam setiap merti dusun. "Jaran Kepang Papat ini harus dipentaskan lebih dulu. Tidak boleh ada kesenian lain sebelum ini dimainkan," ujarnya di sela pementasan.
Baca Juga: Real Madrid Hubungi Manchester City untuk Transfer Rodri, Siapkan Tawaran Menarik
Kesenian ini, kata dia, dimainkan oleh empat penari lanjut usia yang dianggap memahami pakem dan nilai-nilai tradisi. Mereka menari dengan kuda kepang sederhana berwarna hijau dan kuning, ditemani tongkat yang terdapat bendera merah dan golok, serta iringan alat musik rebana dan kempyang.
Sunoto menyebut, Jaran Kepang Papat hanya dipentaskan dua kali dalam setahun, yakni saat merti dusun bulan Safar dan pada momentum Lebaran di dusun tersebut. Namun, persiapan pementasannya membutuhkan waktu panjang hingga dua bulan.
Meski dipentaskan terbatas, lanjut dia, dalam merti dusun, kesenian ini memiliki posisi paling sakral. "Meskipun tidak ada penonton, tetap harus dipentaskan. Bahkan kalau hujan, pertunjukan dipindah ke dalam rumah warga," katanya.
Pertunjukan ini bisa berlangsung seharian hingga malam. Dalam beberapa babak, suasana menjadi semakin magis ketika penari mengalami trance atau kesurupan, yang dipercaya sebagai bagian dari proses spiritual dalam tradisi tersebut.
Sunoto menjelaskan, Jaran Kepang Papat menyimpan filosofi mendalam. Konon katanya, tarian ini menggambarkan kisah perjalanan Prabu Klanasewandono dari Kerajaan Kediri yang hendak melamar putri di Pulau Bali, namun dihadang oleh pertempuran melawan raksasa.
"Tapi sebenarnya bukan soal menang atau kalah. Ini tentang perang melawan hawa nafsu," jelas Sunoto.
Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko menuturkan, kesenian ini menjadi simbol keseimbangan hidup warga. Empat penari melambangkan empat penjuru mata angin, sementara satu pusat menjadi titik keseimbangan.
Menurutnya, Jaran Kepang Papat merupakan warisan leluhur yang tidak bisa dimainkan sembarang orang. "Harus mereka yang sudah paham betul maknanya," terangnua.
Baca Juga: Hasil Drawing FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Satu Grup dengan Malaysia, Singapura, dan India
Handoko menambahkan, keberadaan Jaran Kepang Papat menjadi bukti bahwa warga Mantran Wetan masih memegang teguh nilai-nilai tradisi di tengah perubahan zaman. Bahkan, kesenian ini tetap dipentaskan dalam kondisi apa pun sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. (aya)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja