MUNGKID - Tradisi Saparan atau merti dusun di Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang kembali digelar meriah. Bahkan, perayaan tahunan ini jauh lebih ramai dibandingkan Lebaran. Sebab momentum ini menjadi ajang berkumpulnya seluruh warga, keluarga, hingga kerabat dari berbagai daerah.
Sejak pagi hari, aktivitas di dusun yang berada di lereng Gunung Andong itu terlihat berbeda. Aroma santan dan rempah khas Jawa menyelimuti kampung. Setiap kepala keluarga (KK) menyiapkan beberapa ingkung. Antara empat sampai sepuluh ingkung.
Rangkaian acara dimulai pukul 08.25 dengan arak-arakan tiga gunungan hasil bumi dari musala menuju panggung utama di depan rumah kepala dusun, dengan jarak sekitar 500 meter. Warga berjalan kaki sembari membawa tumpeng, ingkung, hingga berbagai lauk-pauk sebagai simbol kemakmuran.
Setibanya di lokasi, warga berkumpul dan mengikuti doa bersama yang dipimpin sesepuh dusun. Selain kenduri, terdapat ritual sesaji yang dikenal dengan istilah 'mbuangi'. Sesaji tersebut diletakkan di sejumlah titik seperti sungai dan makam sebagai bagian dari tradisi spiritual warga setempat.
Baca Juga: KopDes Merah Putih Pangkas Rantai Pasok, Mentan Amran: Rp 263 Triliun Bisa Kembali ke Petani
Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko mengutarakan, tradisi saparan ini bukan sekadar perayaan yang diperingati saban Rabu Pahing di bulan Safar. Melainkan bentuk ungkapan syukur warga atas rezeki yang diperoleh, sekaligus doa agar keberkahan terus mengalir.
Tidak heran, hampir setiap KK rela merogoh kocek cukup dalam demi menyukseskan tradisi ini. "Kalau rata-rata pengeluaran per keluarga bisa mencapai Rp 4 juta sampai Rp 7 juta," paparnya di lokasi, Rabu (29/7/2026).
Jumlah tersebut, kata dia, digunakan untuk menyiapkan berbagai hidangan, terutama ingkung ayam. Setiap keluarga minimal membuat satu ingkung untuk kenduri, namun untuk menjamu tamu, jumlahnya bisa mencapai lima hingga sepuluh ekor ayam.
Handoko menjelaskan, Saparan selalu digelar pada Rabu Pahing karena diyakini sebagai hari yang telah ditetapkan leluhur. Dia menyebut, pernah ada upaya mengubah hari pelaksanaan, namun ada kendala. "Makanan kenduri jadi basi. Dari situ, kami pakai ilmu titen dan kembali ke hari yang sudah ditentukan," katanya.
Tidak hanya ritual, lanjut dia, Saparan juga dimeriahkan berbagai kesenian tradisional. Satu kesenian yang paling sakral adalah pertunjukan jaran kepang papat, yang wajib ditampilkan dalam setiap merti dusun.
Dia menjelaskan, kesenian ini dimainkan oleh warga yang sudah sepuh dan dianggap memahami pakem tradisi. Jaran kepang papat melambangkan empat penjuru mata angin dan satu pusat, yang dipercaya memiliki makna keseimbangan hidup.
Pertunjukan ini menggunakan empat kuda kepang berwarna hijau dan kuning, serta bendera merah yang tidak boleh diganti. Iringan musik sederhana dari rebana dan kempyang menghidupkan suasana.
Handoko menambahkan, pertunjukan jaran kepang papat ini bisa berlangsung hingga malam hari, bahkan tanpa penonton sekalipun. "Walaupun hanya satu babak, tetap harus dipentaskan. Ini warisan leluhur dan tidak bisa dimainkan sembarang orang," terangnya.
Baca Juga: JAWA POS - RADAR JOGJA, EDISI RABU, 29 JULI 2026
Selain jaran kepang, warga juga menampilkan kesenian lain seperti wayang dan seni tradisional lokal. Dusun Mantran Wetan sendiri dihuni sekitar 163 KK dengan total hampir 480 jiwa. Setelah salat Zuhur, warga dari berbagai daerah akan berdatangan dan bertandang ke rumah-rumah.
Warga setempat, Tunik menyebut, biasanya setiap rumah minimal dua ingkung, namun ada yang menyiapkan hingga sepuluh. "Karena semua keluarga dan teman diundang ke sini. Memang lebih meriah daripada Lebaran," lontarnya. (aya)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja