MAGELANG – Pemkot Magelang meluncurkan kartu pemantauan pengasuhan positif (KP3) digital, Senin (27/7). Kartu tersebut ditujukan untuk memperkuat pencegahan perundungan, kekerasan, dan intoleransi di lingkungan pendidikan sejak usia dini.
Program ini tidak sekadar menjadi simbol kebijakan baru. Melainkan dirancang sebagai instrumen pemantauan berkelanjutan yang menghubungkan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah dalam satu sistem yang terintegrasi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menyebut, KP3 Digital hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut dengan menyediakan data sederhana namun berkelanjutan terkait pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Data ini nantinya menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Selama ini, lanjut dia, masyarakat sering melihat pendidikan hanya dari ruang kelas. Padahal, pembentukan karakter anak justru banyak terjadi di rumah dan lingkungan sosialnya. "KP3 Digital mencoba menyatukan itu semua dalam satu sistem pemantauan," ujarnya di Pendopo Pengabdian.
Dia menekankan, masa 'golden age' merupakan fase krusial dalam pembentukan empati, karakter, dan kepribadian anak. Sehingga pendekatan pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.
Melalui integrasi dengan Gerakan Sapa PAUD, KP3 Digital akan menghimpun berbagai indikator pengasuhan positif dan perkembangan anak. Data itu tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sekolah, tetapi juga menjadi rujukan bagi pemkot dalam merumuskan kebijakan perlindungan anak yang lebih komprehensif.
Baca Juga: 25 Daerah Terdampak Kemarau, Jateng Sudah Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih
Sementara itu, Bunda PAUD Kota Magelang Nanik Yunianti Damar mengutarakan, isu perlindungan anak tidak bisa diserahkan hanya kepada institusi pendidikan.
Dia menyebut, keberhasilan menciptakan lingkungan ramah anak sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi lintas sektor. "Tanggung jawab anak tidak cukup hanya sekolah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus berjalan seiring," lontarnya.
Dia juga mengingatkan, ancaman terhadap anak saat ini tidak hanya berbentuk kekerasan fisik. Tetapi juga kekerasan verbal, perundungan sosial, hingga sikap intoleransi yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak dalam jangka panjang. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo