KEBUMEN - Di usia 62 tahun, Surtini sudah tak lagi memikirkan seberapa luas tanah yang dimilikinya. Warga Desa Wonosari, Kecamatan Sadang itu justru memilih melepas sebagian aset berharganya. Keputusan berat ini ia ambil untuk membangun sebuah jembatan umum demi membawa manfaat lebih luas.
Bagi sebagian orang, menjual aset mungkin menjadi pilihan yang paling dihindari. Apalagi aset itu bagian dari harta yang diwariskan secara turun-temurun. Tapi tidak bagi Surtini. Ia rela menjual sebidang sawahnya untuk membangun sebuah jembatan umum.
Keputusan melepas sebagian aset bagi Surtini tentu tidak mudah. Terlebih lagi, sawah itu telah menjadi sumber penghidupan dirinya dan keluarga. Namun dengan penuh keyakinan ia mengambil pilihan sulit tersebut. Semua dilakukan agar terwujud sebuah jembatan yang selama ini selalu dinantikan. Surtini telah memulai tanpa menunggu keputusan besar dari para pemangku kebijakan.
Ia mengaku tulus membantu tanpa embel-embel apapun. Uang senilai Rp 40 juta dari hasil penjualan sebagian sawah ia hibahkan sepenuhnya untuk pembangunan jembatan. "Saya jual sawah, ternyata laku. Semua uangnya buat bangun jembatan," katanya saat saat ditemui Radar Jogja, Senin (27/7).
Surtini adalah seorang janda. Selepas ditinggal suami, ia berjuang sendiri. Kehidupannya tampak jauh dari tumpukan harta. Kondisi rumahnya juga terlihat hanya sekadar cukup untuk tinggal bersama anak dan cucunya. Namun semua itu bukan menjadi penghalang dirinya untuk terus berbuat baik.
Di usia senjanya, ia bertekad untuk memiliki kekayaan hati dan kebijaksanaan agar bermanfaat bagi sesama. "Sudah musyawarah, keluarga merestui sawah dijual. Saya ingin meninggalkan jejak baik. Sudah tua, mau cari apa," katanya.
Tekad kuat Surtini membangun jembatan berangkat dari sebuah keresahan. Di mana jembatan di dekat rumahnya yang terbuat dari bambu kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan. Warga setempat juga telah berulangkali memperbaiki jembatan sederhana itu. Nenek bercucu enam itu kemudian berinisiatif membangun jembatan permanen dengan modal menjual sawah.
Baca Juga: Dua Tahun Didampingi Pemprov Jateng, Desa di Kebumen ini Mulai Bangkit dari Kemiskinan
Niat baik Surtini ini lantas direspon positif warga lain. Sebagian warga berbondong-bondong ikut membantu, mulai dari material hingga tenaga secara cuma-cuma. "Ngenes, setiap tahun perbaikan jembatan karena pakai bambu. Cepat keropos. Sekarang warga ikut swadaya," jelas Surtini.
Sudah sepekan lebih jembatan yang berada di RT 03/04 Desa Wonosari itu mulai dibangun. Warga setempat secara bergotong-royong terlibat dalam pembangunan demi mimpi memiliki jembatan represetatif.
Bagi warga, jembatan ini cukup penting karena dapat menghubungkan dua padukuhan. Rencananya, jembatan akan dibangun dengan lebar tiga meter. "Karena sudah diawali Bu Surtini, kami ikut dukung penuh. Biaya total bisa Rp 100 juta, dicarikan tambahan dari donatur lain," ucap Ketua RW Mad Sujadi. (laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja