Sebanyak 2.045 Umat Buddha Lantunkan Tipitaka, Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) Tekankan Praktik Dhamma yang Nyata

Naila Nihayah • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 13:02 WIB
Umat Buddha melantunkan Tipitaka di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Jumat (24/7/2026). (Foto: NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
Umat Buddha melantunkan Tipitaka di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Jumat (24/7/2026). (Foto: NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

 MUNGKID - Sedikitnya ada 2.045 umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara memadati kawasan Taman Lumbini, Candi Borobudur. Mereka turutambil bagian dalam rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan perayaan Asalha Mahapuja 2570 BE/2026. 

Kegiatan yang berlangsung 24-26 Juli ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum konsolidasi spiritual sekaligus penanda setengah abad Sangha Theravada Indonesia. Adapun ribuan peserta yang terlibat, terdiri dari para biksu dalam dan luar negeri, samanera, atthasilani, serta atthasila.

Ketua Panitia Umum ITC dan Asalha Mahapuja, Bhikkhu Gutadhammo Mahathera menyebut, kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan ruang praktik langsung ajaran Buddha. Pada hari pertama, peserta menjalani pelatihan atthasila sebagai fondasi moral sebelum mengikuti rangkaian utama.

"Ini bukan euforia. Ini praktik Dhamma yang harus dijalani sungguh-sungguh, mulai dari disiplin diri hingga kebajikan sederhana seperti tidak merokok dan menjaga kebersihan," katanya usai pembukaan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Barcelona Gigit Jari! Harry Kane Dikabarkan Segera Perpanjang Kontrak di Bayern Munchen

Agenda utama ITC adalah pembacaan kitab suci Tipitaka, khususnya bagian Suttapiṭaka Majjhimanikāya. Namun, berbeda dari sekadar pembacaan teks, kegiatan ini juga dilengkapi dengan penjelasan mendalam dari para biksu cendekiawan.

Gutadhammo mengatakan, pendekatan ini penting agar umat tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna ajaran yang terkandung di dalamnya. "Peserta tidak hanya membaca dengan suasana batin yang khusyuk, tetapi juga mendapat penjelasan ilmiah agar benar-benar mengerti isi Dhamma," ujarnya.

Selain itu, pada hari kedua juga digelar ritual pradaksina di stupa induk Candi Borobudur, yang menjadi simbol penghormatan sekaligus refleksi spiritual bagi para peserta. Sementara puncaknya dilakukan pada Minggu (26/7), ditandai dengan prosesi Puja Yatra yang melibatkan lebih dari 10 ribu umat Buddha dari Candi Mendut dan berakhir di Candi Borobudur.

Tahun ini, kata dia, ITC memiliki makna lebih luas karena bertepatan dengan peringatan 50 tahun atau Tahun Kencana Sangha Theravada Indonesia. Momentum ini menjadi refleksi perjalanan panjang Sangha dalam membina umat dan menjaga ajaran Buddha di Indonesia.

Baca Juga: Menjajal Sensasi Kuliner Yogyakarta "Ngopi" Mencekam di Punkalarich, Kedai Kopi Berkonsep Horor di Kotagede

Gutadhammo menambahkan, selama lima dekade, Sangha Theravada Indonesia dinilai konsisten membangun fondasi spiritual umat. Sekaligus menjaga relevansi ajaran Buddha di tengah perubahan zaman.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi menilai, ITC bukan sekadar kegiatan rutin. Tetapi bagian dari upaya strategis dalam menjaga dan melestarikan Dhamma di Indonesia.

Dia pun menekankan pentingnya praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pemahaman teoritis. "Pabbajja dan praktik Dhamma ini bukan euforia, tetapi proses pembelajaran. Harapannya, setelah pulang, peserta membawa perubahan nyata dalam kehidupan," paparnya.

Menurut dia, praktik spiritual seperti atthasila menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter umat. Terutama di tengah tantangan modernitas yang semakin kompleks. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Tipitaka Praktik Dhamma Indonesia Tipitaka Chanting umat budha umat buddha