Sampah Menumpuk di Puncak Sumbing, Pengelola Akui Pengawasan Belum Merata

Naila Nihayah • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 04:01 WIB
BERSERAKAN: Sampah plastik hingga kertas ditemukan di puncak Gunung Sumbing. (Dok: Tangkapan Layar Instagram @pendakilawas)
BERSERAKAN: Sampah plastik hingga kertas ditemukan di puncak Gunung Sumbing. (Dok: Tangkapan Layar Instagram @pendakilawas)

MUNGKID - Video yang memperlihatkan tumpukan sampah di puncak Rajawali Gunung Sumbing viral di media sosial dan menuai kritik dari warga. Dalam rekaman tersebut, tampak sejumlah sampah, terutama tisu basah, berserakan di area puncak.

Unggahan itu salah satunya muncul di akun Instagram @pendakilawas, yang menyindir perilaku pendaki yang tidak bertanggung jawab. Sekaligus mempertanyakan ketegasan pengelola dalam menerapkan aturan terkait sampah.

Ketua Forum Pengelola Gunung Sumbing (FPGS) Lilik Setyawan mengakui, persoalan sampah di gunung tersebut bukan hal baru. Dia menyebut, pengelola sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, baik kepada pendaki maupun antar-basecamp.

Baca Juga: HB X Pastikan Toko di Sirip Jalan Tak Terganggu, Warga Dipersilakan Bangun Kantong Parkir Dukung Full Pedestrian Malioboro

"Sudah sering disampaikan di forum, tapi masih saja terjadi," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/7).

Menurut Lilik, satu penyebab utama masih ditemukannya sampah di jalur maupun puncak adalah belum semua basecamp menerapkan sistem pemeriksaan logistik dan sampah secara ketat. Padahal, mekanisme tersebut dinilai efektif untuk menekan potensi pendaki meninggalkan sampah di gunung.

"Tidak semua basecamp memberlakukan pengecekan logistik dan sampah," kata Lilik.

Baca Juga: Menyusuri Kampung Mati Dusun Bakalan di Lereng Merapi: Jejak Erupsi, Rumah Terkubur, dan Kisah Mistis yang Masih Membekas

Sebagai langkah penanganan, kata dia, para pengelola biasanya melakukan kerja bakti untuk membersihkan jalur pendakian, termasuk area puncak. Untuk wilayah tertentu, seperti jalur yang masuk Kabupaten Wonosobo, kegiatan pembersihan bahkan kerap dilakukan secara spontan begitu ada laporan.

Sementara itu, Pengelola Basecamp Adipuro Kaliangkrik Ridho Aroyan menjelaskan, lokasi puncak Rajawali tidak berada dalam wilayah pengelolaan basecamp-nya. Kawasan tersebut masuk dalam area Banaran, Temanggung hingga Ngarung, Wonosobo.

Meski demikian, isu sampah yang viral tetap menjadi perhatian bersama antar pengelola. Ridho menyebut, persoalan tersebut telah dibahas dalam forum dan saat ini tengah diagendakan aksi pembersihan bersama.

Baca Juga: Perbaikan Jembatan Gantung Dikeluhkan, Akses Warga Terganggu, Harus Memutar hingga Lima Kilometer

"Sudah dibahas di forum, ini sedang diagendakan untuk kerja bakti pembersihan," bebernya.

Ridho menegaskan, pengelola menerapkan pemeriksaan ketat bagi pendaki yang melalui Basecamp Adipuro, baik saat naik maupun turun gunung. Pemeriksaan tersebut mencakup logistik yang dibawa serta sampah yang harus dibawa kembali turun.

Selain itu, pengelola juga rutin melakukan pembersihan jalur secara berkala, setidaknya satu hingga dua bulan sekali. "Pengecekan dilakukan saat naik dan turun," tegasnya.

Di satu sisi, jumlah pendaki yang melalui Basecamp Adipuro saat ini tergolong cukup tinggi. Dalam satu minggu, rata-rata sekitar 50 pendaki tercatat naik melalui jalur tersebut. Kondisi cuaca yang cenderung cerah belakangan ini menjadi salah satu faktor meningkatnya aktivitas pendakian. (aya)

Editor : Sevtia Eka Novarita
pendaki gunung sumbing Sampah Basecamp logistik