Apes, Tumpukan Sampah di TPA Kaligending Kebumen Buat Wilayahnya Tercemar, Produknya Tak Diminati

Muhammad Hafied • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 08:09 WIB
Seorang pemulung mengais sisa limbah di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending, Kecamatan Karangsambung. (M Hafied/Radar Jogja)
Seorang pemulung mengais sisa limbah di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending, Kecamatan Karangsambung. (M Hafied/Radar Jogja)

 

 

 

KEBUMEN - Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaligending terus menjadi ancaman serius bagi hajat hidup masyarakat di sekitarnya. Selama bertahun-tahun warga setempat harus menghadapi dampak pencemaran lingkungan hingga sosial ekonomi.

Kepala Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung Lukman Hakim menyatakan, tumpukan sampah yang terus menggunung menjadi krisis nyata bagi warganya.

Selain menimbulkan bau menyengat, dampak lain yang dirasakan warga yakni penurunan kualitas air. Beberapa sumber air ditengarai ikut tercemar akibat rembesan air lindi.

Baca Juga: Innalillahi, Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan dengan 10 Lapis Pakaian

"Kami sempat uji lab mandiri. Hasilnya, air itu tercemar. Di satu titik air keruh dan hitam pekat," ucapnya kepada Radar Jogja, Senin (20/7).

Warga juga khawatir jika persoalan sampah tak tertangani akan menimbulkan ancaman serius untuk kesehatan. Menurutnya, dengan lingkungan yang tercemar tentu membawa kerugian tersendiri bagi warga. "Penanganan sampah di TPA Kaligending tidak seindah tayangan di media sosial," ujarnya.

Jika dilihat dari aspek sosial dan ekonomi, warga Desa Kaligending juga cukup terdampak dari adanya TPA. Dia mencontohkan, keberadaan TPA memunculkan stigma negatif terhadap produk olahan makanan yang dihasilkan dari warganya.

Baca Juga: Program Padat Karya Berlanjut, Sejumlah Kalurahan di Kulon Progo Bakal Terima Kucuran Dana Lewat APBD dan BKK Dais

Ujungnya, produk tersebut kurang begitu diminati di pasaran. "Harapanya ini ada solusi jangka panjang," katanya.

Pantauan Radar Jogja, lokasi TPA Kaligending cukup berdekatan dengan area permukiman warga. Masih di satu desa tersebut terdapat sejumlah sekolah, tempat ibadah dan pusat pemerintahan tingkat kecamatan.

Sejak pagi lalu-lalang kendaraan pengangkut sampah tampak beriringan menuju area TPA. Pemandangan ini dirasakan warga hampir setiap hari.

Baca Juga: Perhatian Lur! Parkir Ketandan untuk Sementara Ditutup, Ini Batas Waktu Penutupannya

Sebelumnya, mantan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq sempat memuji upaya pemerintah daerah dalam pemanfaatan sampah di TPA Kaligending. Dalam kunjungannya ke Kebumen, dia turut mengapresiasi peran pemkab karena telah berhasil mengkonversi sampah menjadi gas metana serta energi terbarukan berbasis sampah.

Namun begitu, menurutnya jika dihitung secara ideal, prosentase pengolahan sampah di TPA Kebumen masih belum optimal.

Dia menghitung, dua TPA yang ada yakni TPA Kaligending dan TPA Semali rata-rata mampu mengurai sampah 100 ton per hari. Padahal jika dikalkulasi dari jumlah penduduk, Pemkab Kebumen masih punya kekurangan penanganan tumpukan sampah sebanyak 600 ton sehari. "Harus dikembangkan lagi," ujar Hanif. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
TPA Kaligending kebumen Pencemaran Lingkungan TPA Semali RDF