Penggunaan Mesin Combine Masih Terbatas, Petani Kebumen Pilih Cara Manual

Muhammad Hafied • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 22:00 WIB
PANEN RAYA : Bupati Kebumen Lilis Nuryani ikut dalam panen raya padi di Desa Bumirejo, Kecamatan Puring. (Dokumentasi Prokopim Kebumen)
PANEN RAYA : Bupati Kebumen Lilis Nuryani ikut dalam panen raya padi di Desa Bumirejo, Kecamatan Puring. (Dokumentasi Prokopim Kebumen)

KEBUMEN - Penggunaan mesin combine harvester sebagai alat pemanen modern mulai dilirik sejumlah petani di Kebumen. Meski begitu, sebagian besar petani memilih masih bertahan dengan cara manual untuk proses pemanenan. Hal ini terungkap saat panen raya padi di Desa Bumirejo, Kecamatan Puring, Jumat (17/7).

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Puring Ludiyono mengatakan, penggunaan mesin combine cukup membantu para petani dalam menggarap lahan. Apalagi di puncak musim panen seperti sekarang terkadang menghadapi kendala keterbatasan tenaga kerja. Di satu sisi sebagian petani cenderung bertahan dengan pola lama tanpa mengandalkan mesin. "Penggunaan combine baru menjangkau sekitar 40 persen dari total luas lahan. Masih banyak petani memanen secara manual," ungkapnya.

Baca Juga: Genjot Produksi Pangan, Kementan Gelar Tanam Serentak di 26 Provinsi

Dia mengungkapkan, penggunaan mesin combine mulai menjangkau lahan petani seiring penerapan sistem sistem corporate farming atau pengelolaan lahan pertanian yang digarap bersama. Sistem pertanian modern ini dipilih karena dinilai lebih efektif dan efisien. Terbukti, hasil panen raya padi di Desa Bumirejo mampu mencapai 7,5 ton per hektar. "Modernisasi ini sangat berguna, khususnya saat MT I di mana panen berlangsung serentak," jelasnya.

Dalam kesempatan itu Bupati Kebumen Lilis Nuryani ikut menyaksikan panen raya dengan menggunakan mesin combine harvester. Panen padi varietas Inpari 49 itu dilakukan di area seluas 10 hektar. Lilis menekankan pentingnya mekanisasi pertanian sebagai solusi tantangan zaman. "Pertanian hari ini tidak bisa dijalankan dengan cara puluhan tahun lalu," katanya.

Baca Juga: PSIM Gelar Latihan Perdana di Stadion Mandala Krida Senin, Tidak Komplet karena Belum Semua Pemain Tiba di Jogja

Menurut Lilis, teknologi bukan untuk menggantikan peran petani, melainkan sebagai alat bantu untuk efisiensi pekerjaan. Ia menegaskan, sektor pertanian harus beradaptasi seiring tenaga kerja terbatas dan biaya produksi meningkat. "Mesin hanyalah alat, penggerak utamanya tetaplah tangan, pengalaman dan ketekunan petani," ujarnya.

Usai panen, petani melanjutkan menggarap lahan dengan menanam benih kacang hijau varietas Vima-1 sebagai upaya intensifikasi lahan pada MT III. Tanaman ini dipilih karena usia panen yang relatif pendek, yakni 65-75 hari, sehingga sangat efektif sebagai tanaman selingan di musim tanam ketiga. (fid)

Editor : Sevtia Eka Novarita
mesin combine harvester cara manual kebumen Petani Kecamatan Puring