KEBUMEN - Pemerintah berkeyakinan hadirnya koperasi desa merah putih (KDMP) akan menjadi sokoguru perekonomian di tingkat desa. Namun di balik besarnya harapan itu koperasi desa yang digadang-gadang sebagai penggerak ekonomi kerakyatan memiliki tantangan berat yang perlu dihadapi.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Putra Bangsa (UPB) Akhmad Syafrudin menjelaskan, konsep yang diusung KDMP sebenarnya sudah cukup bagus. Terlebih, perjalanan koperasi juga mengedepankan asas kolektif dari masyarakat sebagai kekuatan tersendiri.
Namun persoalan krusial akan muncul jika dari sisi manejemen koperasi tidak tertata dengan baik. "Modal paling penting itu SDM, manusianya. Tanpa itu, potensi bagus sulit digarap," ungkapnya kepada Radar Jogja, Jumat (17/7).
Baca Juga: Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla
Syafrudin menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian agar koperasi tetap eksis dan memberikan dampak positif bagi anggotanya. KDMP, kata dia, perlu menempatkan diri sebagai entitas bisnis.
Artinya dapat menjangkau peluang yang dapat menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, tata kelola dan strategi bisnis sangat menentukan keberlangsungan KDMP.
"Harus murni fight. Di sini kompetisi efisiensi, mana lebih murah, pelayanan hagus dan terjangkau, itu yang dikejar," jelasnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu menerangkan, perlu tiga keutamaan agara KDMP tidak berjalan stagnan. Pertama, dari sisi kualitas SDM atau pengelola.
Lalu, juga perlu diperhatikan kondisi pasar. Tak kalah penting titik lokasi koperasi itu sendiri. Dia optimis KDMP akan jalan manakal ketiga modal tersebut dapat terpenuhi. "Aspek itu harus nge-link. Tinggal apakah desa mampu, itu pertanyaan besarnya," katanya.
Syafrudin tidak begitu sepakat jika unit usaha KDMP hanya berfokus pada gerai toko dan usaha farmasi. Dia sempat menganalisa laba yang dihasilkan dari unit usaha tersebut tidak cukup untuk menutup tanggungan koperasi.
Justru dia melihat ada peluang cukup menjanjikan, yakni dengan pemanfaatan gudang koperasi untuk menyerap hasil pertanian atau potensi lain yang ada di desa. "Dalam pandangan saya, yang jadi kunci itu gudang koperasi," ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Jogja Bergantung Kesiapan Sirip-Sirip, Kejar Target Malioboro Full Pedestrian di November
Dalam perjalannya, kata Syafrudin, KDMP perlu konsisten melakukan perbaikan karena menjadi program baru. Dia mencontohkan, perusahaan di negara maju justru terus mencari celah kelemahan sebagai bahan perbaikan pelayanan.
Kemudian perusahaan tersebut juga melakukan kajian berbasis data dan riset untuk optimalisasi perkembangan bisnis. "Bukan cuma jualan laku. Cari inovasi dan kreatif baru. Sampai kepuasan pelanggan harus diperhatikan," ungkapnya.
Ketua KDMP Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan Sukijan menyatakan, dia bersama rekan per hari ini terus diselimuti kegundahan akibat belum ada kejelasan mengenai tata kelola KDMP. Padahal dari sisi bangunan dan kendaraan operasonal saat ini telah tersedia secara lengkap.
Dia juga belum mengengetahui pasti soal penyertaan modal atau dana talangan yang diberikan untuk keberlangsungan KDMP. "Masih sama-sama bingung. Mau dibawa kemana ini koperasi," katanya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo