MUNGKID - Uang ganti kerugian (UGR) proyek jalan Tol Jogja-Bawen yang diterima warga tidak selalu bernilai besar. Alih-alih mendapat UGR ratusan juta, warga Sidogede, Grabag bernama Dwi Setyadi hanya mengantongi sebesar Rp 4,7 juta.
Dwi menyebut, uang itu cukup untuk membeli beras dan kebutuhan rumah tangga lainnya. "Kalau dapat (UGR) banyak, mungkin bisa untuk yang lain. Tapi kalau segini, ya, untuk kebutuhan saja," ujarnya usai menerima UGR, Selasa (14/7).
Dia mengatakan, bagian tanah yang terkena hanya sekitar enam meter di pojok sawah miliknya. Meski kecil, lahan tersebut merupakan sawah produktif yang selama ini ditanami padi dan cabai. "Kena sedikit, cuma enam meter. Sawah, biasanya ditanami padi sama cabai," imbuhnya.
Sawah itu, kata dia, merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya yang selama ini menjadi satu sumber penghidupan. Meski begitu, dia mengaku tidak terlalu mempermasalahkan pengambilan sebagian lahannya.
Dia hanya menyoroti lamanya proses pencairan ganti rugi yang harus ditunggu. "Prosesnya terlalu lama. Dari awal 2024, katanya tahun kemarin mau cair, tapi baru sekarang ini," lontarnya.
Panitia Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Magelang Adi Cahyanto menuturkan, pencairan UGR kali ini mencakup lima desa, yakni Banyusari, Sidogede, Grabag, Kalikuto, dan Kartoharjo.
Dia menyebut, total terdapat 65 bidang tanah yang dibayarkan dengan luas sekitar 3,6 hektare, dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 46 miliar. "Paling banyak di Banyusari ada 31 bidang, kemudian Sidogede 28 bidang, sisanya di Grabag, Kalikuto, dan Kartoharjo masing-masing dua bidang," jelasnya.
Pembayaran ini, lanjut Adi, merupakan bagian dari pengadaan lahan proyek tol Seksi 5 yang saat ini tengah dipercepat. PPK menargetkan proses pengadaan lahan di seksi tersebut dapat rampung dalam tahun ini. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo