KEBUMEN - Harga kelapa di pasaran per hari ini belum begitu menjanjikan bagi kalangan petani maupun pengepul.
Fluktuasi harga yang tak tentu membuat mereka lebih memilih mengolah kelapa menjadi kopra, ketimbang dijual utuh sebagai bahan santan.
Seperti terlihat di kompleks Pasar Kelapa Prembun. Biasaya pasar ini riuh dengan aktivitas jual beli kelapa segar untuk kebutuhan kuliner. Namun area pasar tersebut kini berubah menjadi lahan untuk pengeringan kelapa.
Hamparan daging kelapa terlihat sedang dijemur dengan terik matahari sebelum dijadikan kopra.
Baca Juga: Kandang Ayam Terbakar di Padureso Kebumen, Kerugian Capai Rp 750 Juta: Dugaan Awal Karena Ini
Pengepul kelapa Michael Agan Wijaya Putra, 30, mengatakan, penjualan kelapa untuk diolah menjadi kopra saat ini jauh lebih rasional dari sisi bisnis. Keuntungan yang dihasilkan pun lebih menarik seiring sepinya permintaan kelapa utuh di pasaran.
"Karena kondisi pasar sedang tidak baik-baik saja, salah satu jalan kelapa dibuat kopra," ungkapnya saat ditemui, Minggu (12/7/2026).
Kepada koran ini, Agan mengatakan, penentuan harga kelapa di pasaran sebenarnya tidak jauh dengan komoditas lain. Tergantung jumlah kebutuhan dan pasokan. Namun faktanya hari ini jumlah permintaan tak sebanding dengan menumpuknya ketersediaan barang.
Dia mencermati hal ini menjadi salah satu indikator ketidakpastian ekonomi telah terjadi sampai tingkat petani. "Dulu bisa kirim kelapa utuh sampai empat truk. Sekarang boro-boro. Ekspor juga lagi sulit karena posisi barang mentah," ujarnya.
Menurutnya, pengolahan kelapa menjadi kopra sebagai langkah alternatif. Yakni, agar bagaimana tetap dapat mempertahankan nilai jual di tengah lesunya penjualan kelapa segar.
Pengolahan kelapa menjadi kopra dinilai memberikan kepastian soal harga maupun pasokan barang.
"Kalau mau untung itu jual bijian, tapi kan permintaan sepi. Sulit buat mutar uang. Penyelamatnya ya dibuat kopra," jelasnya.
Agan menyampaikan, kelapa khas Kebumen memang sudah dikenal secara kuantitas maupun kualitas. Di samping itu dari sisi harga juga mampu bersaing dengan kelapa dari daerah lain.
Kondisi ini tentu menjadi poin plus tersendiri untuk pembuatan kopra. Tak jarang, pabrik penghasil minyak nabati melirik kelapa asal Kebumen sebagai bahan baku utama.
Dia menyebut, sejauh ini kelapa lokal Kebumen cukup diminati perusahaan asal Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam sebulan dirinya rutin mengirim sedikitnya 20 ton untuk mencukupi permintaan perusahaan.
"Sekarang harga lagi lumayan bagus. Tembus Rp 16.300 per kilogram. Perhitungannya masih masuk," kata Agan.
Baca Juga: Sampah Liar di Flyover Lempuyangan Dikeluhkan, Ini Kata Satpol PP Kota Jogja
Petani yang juga pengolah kopra Slamet, 63, menjelaskan, kondisi harga kelapa di pasaran belum cukup stabil. Oleh karenanya, hasil panen kelapa terpaksa diolah menjadi kopra karena harga jual lebih berpihak.
Pengolahan kopra juga menjadi solusi seiring menumpuknya ketersediaan kelapa akibat tidak adanya kepastian pasar.
Di sisi lain pembuatan kopra di musim kemarau juga diuntungkan karena proses pembuatannya mengandalkan terik matahari.
"Prosesnya tidak lama, diasapkan dulu baru dijemur. Setelah kering laku jual," ucapnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita