Hal itu dirasakan oleh warga Blabak, Kabupaten Magelang, Fandy Arief Ardana.
Dia telah menggunakan sepeda motor miliknya selama kurang lebih tiga tahun. Fandy mengaku, terakhir kali mengganti shockbreaker sekitar sembilan bulan lalu.
Namun, penggantian itu bukan untuk mengikuti tren, melainkan demi meningkatkan kenyamanan berkendara.
Baca Juga: Perlu Perhitungan sebelum Modifikasi Sistem Suspensi, Tak Cermat Bisa Merusak Komponen Lain
"Saya ganti shockbreaker bukan karena tren, tapi lebih ke kenyamanan saja. Biar lebih enak dipakai sehari-hari," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Fandy, penggunaan shockbreaker standar terkadang terasa kurang optimal, terutama saat melintasi jalan yang tidak rata.
Setelah diganti, dia merasakan perbedaan signifikan pada performa suspensi. "Yang paling terasa itu suspensinya jadi lebih empuk, tidak kaku seperti sebelumnya," tambahnya.
Dia menyebut, biaya penggantian shockbreaker tergolong relatif terjangkau, yakni di kisaran Rp 500 ribu, tergantung jenis dan kualitas komponen yang dipilih.
Meski lebih mengutamakan fungsi, Fandy mengakui tren penggunaan shockbreaker racing dengan tampilan lebih rendah atau 'ceper' cukup populer.
Dia mengatakan, banyak pengendara, terutama kalangan muda, menjadikan modifikasi ini sebagai bagian dari gaya dan identitas.
"Rata-rata teman-teman pakai shockbreaker racing, motornya dibuat lebih ceper," lontarnya.
Saat itu, dia mengganti shockbreaker di bengkel milik Pak Yono, tepatnya di Jumoyo, Salam, Kabupaten Magelang atas rekomendasi temannya.
Bengkel ini dipilih lantaran dinilai memiliki keahlian khusus dan sudah dikenal luas.
Bahkan, lanjut dia, bengkel milik Pak Yono itu kerap menarik pelanggan dari luar daerah seperti Bali, Lampung hingga Kalimantan.
Meski pelanggan harus rela antre dalam waktu cukup lama, mereka tak segan menunggunya.
Baca Juga: Fasilitas Minim, Komisi IV DPR RI Berencana Bantu Pengembangan Konservasi Penyu Pantai Gua Cemara
"Ada yang sampai menginap di bengkel karena antre. Tapi memang pelayanannya juga diperhatikan, ada fasilitas makan minum," bebernya.
Menurut Fandy, tren ini menunjukkan bahwa modifikasi shockbreaker tidak lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup otomotif.
Namun, dia menilai tren itu sebaiknya tetap disikapi secara bijak.
Dia menambahkan, penggunaan shockbreaker seharusnya tidak berlebihan dan tetap mengutamakan aspek keamanan serta kenyamanan berkendara.
"Menurut saya sih sah-sah saja, worth it. Tapi jangan berlebihan, tetap utamakan kenyamanan, bukan sekadar ikut tren," lontarnya. (aya/laz)
Editor : Herpri Kartun