MUNGKID - Penanaman pohon menjadi penanda dimulainya Festival Lima Gunung (FLG) XXV yang digelar di Dusun Warangan, Muneng Warangan, Pakis. Momentum ini sekaligus menandai seperempat abad perjalanan hajatan budaya yang melibatkan ribuan seniman dari berbagai daerah.
Sebanyak lima bibit pohon diarak dalam kirab sejauh kurang lebih 500 meter, sebelum akhirnya ditanam sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan. Aksi tersebut menjadi pembuka rangkaian festival yang berlangsung selama tiga hari, 10-12 Juli 2026.
Ketua Komunitas Lima Gunung (KLG), Sujono mengutarakan, penanaman pohon bukan sekadar seremoni. Melainkan pesan kuat tentang pentingnya konservasi lingkungan di tengah kehidupan warga.
"Bagaimana generasi ke depan bisa peduli terhadap alam dan tanaman," ujar Sujono di sela pembukaan festival, Jumat (10/7).
Baca Juga: Jangan Asal Tergiur Harga Murah, Ini tips Memilih Kost yang Nyaman untuk Mahasiswa Perabtau
Dia menjelaskan, kirab pembuka festival berbeda dari biasanya karena tidak menggunakan gunungan, melainkan membawa bibit pohon. Kirab dimulai dari titik depan area pameran menuju lokasi penanaman, kemudian berlanjut ke panggung utama.
Usai kirab dan penanaman, kata dia, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembukaan pameran seni yang diikuti seniman-seniman Magelang. Hari pertama kemudian diisi dengan pementasan seni perdana.
"Untuk hari pertama ini ada sekitar 30 kelompok kesenian yang tampil dari pagi hingga menjelang malam," bebernya.
Secara keseluruhan, FLG melibatkan sekitar 85 kelompok kesenian dengan total 1.274 seniman. Mereka menampilkan beragam karya, mulai dari tari tradisional, musik, pembacaan puisi, kirab budaya, hingga kolaborasi lintas genre.
Memasuki usia ke-25 tahun, FLG mengusung tema Makin Goblok Bareng. Tema ini dimaknai sebagai ajakan untuk terus belajar bersama melalui kesederhanaan, sekaligus kritik terhadap pola pikir yang menjauh dari nilai-nilai budaya dan alam.
Sujono menambahkan, selain pertunjukan seni, festival juga menghadirkan instalasi seni berbasis bahan alami yang dipasang di berbagai titik lokasi. Instalasi ini menjadi bagian dari ruang interaksi antara seniman, masyarakat, dan alam sekitar.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan berbagai agenda yang tersebar di sejumlah titik. Termasuk panggung utama dan area pameran.
Baca Juga: Bukayo Saka Klaim Sanksi untuk Jarell Quansah Sangat Mengecewakan
Presiden KLG, Sutanto Mendut menambahkan, festival ini menjadi bagian dari ruang ekspresi komunitas seni berbasis desa yang mengedepankan kemandirian, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam. Sejak pertama digelar, festival ini konsisten menjadi wadah pertemuan seniman lintas daerah, bahkan tanpa dukungan atau sponsor.
"Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia, seni, dan lingkungan," lontarnya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin