Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani di Ngablak Sikapi Harga Anjlok saat Panen Raya, Tak Dijual Segar, Olah Sawi Jadi Kraukk!!

Naila Nihayah • Minggu, 5 Juli 2026 | 06:07 WIB
Produk Kraukk!! besutan KWT Sehati di Desa Sumberejo, Ngablak sudah laris di pasaran
Produk Kraukk!! besutan KWT Sehati di Desa Sumberejo, Ngablak sudah laris di pasaran

 
 


Harga sawi di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang kerap terjun bebas saat panen raya. Kondisi tersebut memaksa petani mencari cara agar hasil panen tetap memikiki nilai ekonomi. Satu di antaranya dengan membuat olahan keripik.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sumberejo, Siyono menjelaskan, saat produksi melimpah, harga sawi di tingkat petani bisa merosot hingga Rp 500 per kilogram (kg). Padahal, pada kondisi normal harga berada di kisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kg.

Bahkan, dalam situasi tertentu dapat mencapai Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kg. "Kalau panen bersamaan dan produksi melimpah, harga bisa jatuh sekali. Bahkan pernah sampai Rp 500 per kg di petani," ujarnya, Senin (29/6).

Baca Juga: Hadirkan NIKI, Michael Learns To Rock hingga Xdinary Heroes, Prambanan Jazz Janji Tetap Jadi Festival Jazz

Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar petani di wilayah Ngablak menanam komoditas yang sama dalam waktu bersamaan. Dalam satu kali panen, seorang petani bisa menghasilkan satu hingga tiga ton sawi putih.

Sementara daya serap pasar lokal terbatas, yakni sekitar 25 ton per hari, sehingga kelebihan pasokan tidak terserap optimal. Akibatnya, tidak jarang hasil panen terpaksa dijual dengan harga sangat rendah, bahkan ditinggalkan di pasar karena tidak laku.

Menghadapi situasi tersebut, kelompok wanita tani (KWT) di Desa Sumberejo mencari solusi melalui pengolahan hasil panen. Satu di antaranya dengan memproduksi keripik sawi atau yang diberi nama 'Kraukk!!'. "Jadi tidak hanya dijual segar, tapi diolah menjadi produk," kata Siyono.

Baca Juga: Jaringan Air Bersih 30 Km di Lereng Merapi Kabupaten Dipulihkan, 4.000 KK Kembali Terlayani  Pascabencana Lahar

Produk keripik sawi ini dikembangkan oleh KWT Sehati di Desa Sumberejo sejak 2022. Dengan memanfaatkan sawi putih berkualitas, kelompok ini mengolah hasil panen menjadi camilan dengan berbagai varian rasa, seperti original, balado, barbeque (BBQ), dan jagung manis.

Proses produksinya, kata Siyono, masih dilakukan secara sederhana dan melibatkan kerja kolektif anggota kelompok. Sawi yang telah dipilih dan dicuci kemudian dilapisi tepung sebelum digoreng hingga kering dan renyah.

Dia menyebut, dalam satu hari produksi penuh, kelompok ini mampu mengolah sekitar 25 kg sawi menjadi 200 hingga 250 kemasan keripik ukuran 100 gram. Kegiatan produksi dilakukan tiga kali dalam sepekan, menyesuaikan dengan aktivitas utama anggota sebagai petani.

Baca Juga: Pintu Waduk Wadaslintang Ditutup, Wisata River Tubing di Sendangdalem Kabumen Vakum Sementara

Produk keripik sawi itu, lanjut dia, telah dipasarkan di sejumlah toko oleh-oleh di wilayah Magelang serta destinasi wisata lokal. Dalam sebulan, penjualan mencapai 500 hingga 700 kemasan, dengan harga Rp 18 ribu per bungkus di tingkat produsen.

Dengan capaian tersebut, omzet kelompok diperkirakan sekitar Rp 9 juta per bulan. Sistem pembagian keuntungan dilakukan secara borongan, yang mana anggota mendapatkan upah produksi per kemasan, sementara sebagian keuntungan masuk ke kas kelompok.

Produk ini, lanjut Siyono, sebenarnya telah menjangkau beberapa daerah di luar Magelang, seperti Jakarta, Bandung, hingga Nusa Tenggara Barat, meski masih dalam skala terbatas. 'Ke depan kami ingin memperluas pasar, tidak hanya lokal tapi juga nasional, bahkan kalau bisa sampai internasional," paparnya optimistis.

Baca Juga: PSS Sleman Umumkan Perpisahan dengan Nuri Fasya

Selain itu, dari sisi legalitas, produk keripik sawi ini telah mengantongi izin PIRT, sertifikasi halal, serta informasi nilai gizi. Saat ini, kelompok juga tengah mengurus hak merek sebagai bagian dari pengembangan usaha.

Pengurus KWT Sehati, Fitriani menuturkan, sebagian besar anggota sebelumnya hanya mengandalkan hasil pertanian dari lahan masing-masing dengan luas sekitar 1.000 hingga 2.000 meter persegi.

"Sekarang selain bertani, kami juga memproduksi keripik. Jadi ada tambahan kegiatan dan pemasukan," bebernya. (aya/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#kraukk!! #Magelang #sawi #gapoktan #ngablak