MUNGKID - Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Magelang anjlok dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini membuat peternak merugi. Padahal harga pakan masih terbilang tinggi. Di sisi lain, situasi itu justru memberi keuntungan bagi konsumen karena harga lebih terjangkau.
Peternak ayam petelur di Ambartawang, Mungkid, Edi Nurkolis mengutarakan, harga telur mulai turun sekitar setengah bulan lalu hingga menyentuh Rp 19 ribu per kilogram. Dalam tiga hari terakhir harganya mulai merangkak naik di kisaran Rp 21.000 per kg.
Dia menilai, turunnya harga telur ayam ras diduga dipicu menurunnya permintaan pasar. Satu faktor yang dirasakan adalah berhentinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah, karena sebelumnya turut menyerap produksi telur dalam jumlah cukup besar. "Mungkin karena MBG berhenti, jadi permintaan telur ikut turun," katanya di kediamannya, Jumat (3/7).
Edi saat ini memelihara sekitar 650 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur harian berkisar antara 330 hingga 360 butir. Telur biasanya dipanen dua kali sehari dan disalurkan ke toko-toko kelontong di wilayah Blondo dan Jetak, Mungkid.
Namun, lanjut Edi, penurunan harga telur tidak diikuti turunnya biaya produksi. Harga pakan justru masih tinggi, mencapai sekitar Rp 3,6 juta untuk 10 karung yang hanya cukup untuk kebutuhan satu minggu.
Baca Juga: Belum Punya Fasilitas TPS3R, Sampah Dibakar Bukan Karena Warga Tak Peduli, Tapi Tak Ada Pilihan Lain
Kondisi ini membuat usaha peternakan yang dijalankan Edi selama hampir satu tahun terakhir mengalami kerugian. Dia mengaku, harus menombok antara Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu setiap pekan untuk menutup biaya operasional. "Dengan harga pakan sekarang, jelas rugi. Tiap minggu bisa nombok hingga Rp 800 ribu-Rp 900 ribu," keluhnya.
Dia menyebut, kondisi saat ini merupakan yang terburuk sejak mulai beternak. Sebelumnya, harga telur masih berada di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per kg di tingkat peternak. Sehingga peternak masih bisa memperoleh keuntungan untuk membeli pakan meski tipis.
Baca Juga: Sidang Praperadilan Raudi Akmal Dijadwalkan 20 Juli, Hakim Wajib Putus dalam Tujuh Hari
"(Harga) ini yang paling rendah selama saya beternak. Kalau dulu harga Rp 23 ribu atau Rp 24 ribu per kg masih ada sisa (untung), sekarang ya jelas rugi," sebutnya.
Meski harga telur ayam ras turun, Edi tetap memilih bertahan. Namun dia mengakui ada sejumlah peternak yang terpaksa menghentikan usaha karena tidak mampu menutup kerugian. "Saya bertahan saja, walaupun nombok. Tapi ada juga yang sudah gulung tikar," ucapnya.
Edi berharap, harga telur bisa kembali normal seiring meningkatnya permintaan, terutama setelah aktivitas sekolah kembali berjalan. Paling tidak, lanjut dia, harganya kembali di angka Rp 22 ribu per kg atau lebih.
Sementara itu, warga Secang, Heni mengaku harga telur ayam ras yang turun cukup menguntungkan. Sebab, jarang sekali harga telur anjlok di bawah Rp 27 ribu per kg. Sehingga dia bisa membeli dalam jumlah lebih banyak untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kalau kemarin mahal, beli sedikit-sedikit. Sekarang lebih murah. Harganya tadi sekitar Rp 25 ribuan. Jadi bisa stok lebih banyak buat lauk anak-anak," bebernya. (aya/laz)