Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Regenerasi Petani di Kabupaten Magelang Berjalan, Banyak yang Bertani sambil Ngonten

Naila Nihayah • Selasa, 30 Juni 2026 | 01:23 WIB
Para petani muda mendapat bimbingan soal pemanfaatan teknologi untuk bertani.
Para petani muda mendapat bimbingan soal pemanfaatan teknologi untuk bertani.

 



MUNGKID - Upaya mendorong regenerasi petani mulai menunjukkan geliat di sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang. Meski masih didominasi petani berusia lanjut, minat generasi muda untuk menggarap sektor pertanian mulai meningkat.

Kondisi ini terlihat dalam kegiatan temu ratusan petani muda yang digelar di kawasan Ngablak, lereng Gunung Merbabu, Senin (29/6). Kegiatan tersebut menjadi satu ruang pertemuan antara petani muda, pelaku usaha, hingga pihak swasta dalam membahas masa depan pertanian.

Petani muda asal Desa Banyuroto, Sawangan, Arum Wulandari mengatakan, minat anak muda untuk bertani di desanya justru meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebab bertani dinilai lebih fleksibel dan bisa mengelola usaha sendiri.

Baca Juga: Ruhaeni Intan, Nama Baru yang Mulai Mencuri Perhatian Sastra Indonesia lewat 'Dysfunctional Family'

Dia menyebut, stigma bahwa bertani identik dengan pekerjaan yang kurang menjanjikan mulai berkurang. Hal ini seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang potensi keuntungan dari sektor pertanian.

"Mereka sudah tahu hasilnya. Jadi tidak ada rasa malu atau gengsi untuk turun ke sawah," paparnya.

Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait skala usaha dan akses terhadap teknologi. Meski sebagian alat modern seperti traktor, mesin semprot, hingga sistem pengairan sudah digunakan, adopsinya belum merata.

Selain itu, fluktuasi harga, akses pasar, dan permodalan juga masih menjadi persoalan yang dihadapi petani. Namun, belakangan muncul tren baru di kalangan petani muda, yakni memanfaatkan media sosial untuk mendukung aktivitas pertanian.

Baca Juga: Januari hingga Mei, Disnakertrans Bantul Catat Ada 142 Karyawan Kena PHK

Sejumlah petani, kata Arum, mulai membuat konten digital. Baik untuk berbagi pengalaman maupun sebagai sumber penghasilan tambahan melalui promosi produk.

"Sekarang ada juga yang sambil bertani sambil bikin konten. Itu jadi tambahan penghasilan," kata Arum.

Head of Better Life Farming Bayer Indonesia, Maria Magdalena Pakpahan mengutarakan, persoalan utama sektor pertanian saat ini adalah minimnya regenerasi. Menurutnya, mayoritas petani aktif didominasi usia lanjut, sementara keterlibatan anak muda masih terbatas.

"Kita melihat petani sekarang banyak yang usianya sudah di atas 70 tahun. Kalau tidak ada regenerasi, ini bisa menjadi tantangan serius ke depan," ujarnya.

Baca Juga: Tak Kuat Menanjak, Truk Towing Muatan Alat Berat Tabrak Teras Masjid di Kulon Progo

Dia menyebut, pendekatan untuk menarik minat generasi muda tidak cukup hanya dengan mendorong aktivitas bertani secara konvensional. Anak muda perlu melihat bahwa sektor ini memiliki peluang ekonomi yang luas, termasuk dari sisi pascapanen hingga pemanfaatan teknologi digital.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada praktik budi daya. Tetapi juga berbagai peluang lain seperti pengolahan hasil, pemasaran digital, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sumber pendapatan tambahan.

Presiden Direktur Bayer Indonesia, Yuchen Li menilai, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani tidak bisa dilepaskan dari akses terhadap pengetahuan dan praktik pertanian berkelanjutan. Dia menekankan, kebutuhan petani saat ini tidak hanya pada produk, tetapi juga pendampingan dan layanan yang mampu meningkatkan kapasitas mereka.

Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia U17 di Garuda Championship Series Melawan Malaysia

"Petani membutuhkan pengetahuan baru untuk menghadapi tantangan pertanian modern, termasuk bagaimana meningkatkan hasil sekaligus menjaga keberlanjutan," bebernya.

Sementara itu, Commercial Unit Lead West Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono menjelaskan, pengembangan produk pertanian saat ini berbasis pada riset dan kebutuhan nyata petani. Satu pendekatan yang dilakukan adalah melalui demonstrasi plot.

"Petani perlu melihat langsung hasilnya. Dengan begitu mereka bisa menilai sendiri perbedaannya," lontarnya. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#regnerasi petani #bayer #Petani Muda #Kabupaten Magelang #ngablak