KEBUMEN - Sejumlah komoditas pangan di Kebumen juga terpantau mengalami penurunan harga sejak sepekan terakhir. Pedagang menyebut kondisi ini dipicu adanya kebijakan pemberhentian operasional program MBG dalam rangka libur sekolah.
Pantauan Radar Jogja di Pasar Tumenggungan, anjloknya harga terjadi pada komoditas daging, telur, sayuran hingga bumbu dapur. Sebagian komoditas bahkan mengalami penurunan harga secara signifikan.
Seperti cabai rawit, harga tingkat eceran sempat dijual Rp 60 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Kemudian buncis, sebelum turun harga dijual Rp 12 ribu per kilogram, sekarang dibanderol Rp 6 ribu per kilogram.
Penjual sayur dan bumbu dapur Laras Wahyuni, 43, mengatakan, fluktuasi harga sudah mulai dirasakan sejak musim libur sekolah tiba. Ia mengakui pemberhentian program MBG sedikit banyak membawa pengaruh terhadap kondisi harga di pasar.
Banyaknya stok barang yang tidak diimbangi tingginya permintaan dinilai menjadi faktor pemicu harga sejumlah komoditas terjun bebas.
"Dari MBG terakhir, harga-harga langsung turun," ungkapnya kepada Radar Jogja, Senin (29/6/2026).
Ia menyebut, tren penurunan harga juga diikuti telur ayam ras, dari sebelumnya menyentuh harga Rp 25 ribu kini turun menjadi Rp 22 ribu per kilogram.
Baca Juga: Kejari Sleman Masih Telaah Penangguhan Penahanan Raudi Akmal, Tidak Ada Jawaban Otomatis Ditolak
Selain itu penurunan harga juga terjadi pada komodits bawang, seperti bawang merah dari Rp 48 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram. "MBG libur, stok melimpah. Karena jarang yang ambil harga jadi murah," katanya.
Penjual daging ayam Khodirin, 50, mengatakan, harga daging ayam ras sampai sekarang terus turun secara bertahap. Terakhir, sebelum musim libur sekolah harga berkisar Rp 33-35 ribu, sedangkan kini dibanderol Rp 30 ribu per kilogram.
Menurutnya, siklus harga yang tak menentu akibat minimnya permintaan untuk kebutuhan MBG menjadi potret hukum pasar. Di mana harga akan stabil jika pasokan dan permintaan barang berjalan seimbang.
"Turun tiba-tiba mulai libur sekolah. MBG tidak narik barang lagi," jelasnya.
Dia memprediksi, penurunan harga akan terus terjadi selama program MBG belum beroperasional efektif. Ditambah lagi, saat ini telah memasuki bulan Muharam atau Sura yang sebagian besar masyarakat lebih memilih tidak menggelar hajatan.
Otomatis pasokan barang yang tersedia di pasar tidak terserap optimal. "Harga mahal karena MBG. Sekarang libur, ya turun. Faktor lain mungkin sudah bulan Sura, jarang orang hajatan," bebernya.
Salah satu pembeli sayuran Hidayatun, 41, menyambut baik tren penurunan harga belakangan ini. Ia mengaku cukup lega karena sejak program MBG bergulir harga sejumlah komoditas terus merangkak naik.
Padahal ia biasanya hanya merasakan kenaikan harga pada momentum tertentu, seperti perayaan hari besar nasional. "Pas Lebaran atau tahun baru biasanya naik. Ini kok di luar itu naiknya terus," ujarnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita