MUNGKID - Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Dusun Tegalwangi, Tegalarum, Borobudur. Debit air semakin tidak menentu, bahkan kerap mati pada jam-jam krusial. Kondisi itu memaksa warga mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga setempat Fathonah, 53, mengaku, sangat terbantu dengan adanya droping air yang dilakukan di wilayahnya. Dia menyebut, dalam beberapa hari terakhir pasokan air bersih di rumahnya sering terhenti, terutama pada pagi dan sore hari.
Dia menjelaskan, saat pagi hari, air dari jaringan pamsimas biasanya baru mengalir sekitar pukul 09.00-10.00. Sementara pada sore hari, airnya hanya mengalir kecil. Bahkan kadang baru normal menjelang malam. "Kemarin sore dari jam tiga sampai Magrib kecil sekali. Kadang jam tujuh baru mengalir. Pagi juga sering mati, baru hidup agak siangan," sebutnya Jumat (26/6).
Baca Juga: 514 Taruna Akmil Kirab Pamitan di Magelang, Sarat Etika dan Nilai Sopan Santun Ketimuran
Kondisi tersebut, kata dia, praktis membuat aktivitas harian warga terganggu. Untuk kebutuhan sederhana seperti mencuci peralatan dapur, warga harus menunggu atau mencari alternatif sumber air. "Tadi mau cuci piring saja tidak bisa, airnya mati. Akhirnya ada bantuan air ini, terus bawa enam ember," ucapnya.
Kepala Desa Tegalarum Agus Ujiwantoro menyebut, dari empat dusun, tiga di antaranya masih relatif aman. Sementara Tegalwangi mulai mengalami penurunan ketersediaan air sejak awal musim kemarau. “Memang Tegalwangi ini paling cepat kering. Sumurnya dalam, kalau kemarau panjang bisa asat," jelasnya.
Dia menambahkan, upaya penyediaan air bersih melalui sumur pernah dilakukan menggunakan dana desa. Namun hasilnya kurang optimal karena kualitas air yang dihasilkan cenderung asin. Saat ini, warga masih mengandalkan sumber air yang ada, meskipun kualitasnya menurun saat musim kemarau.
Baca Juga: PAD 2025 Gunungkidul Tembus 100,95 Persen, DPRD Minta Pemkab Tetap Optimalkan Aset Daerah
"Pernah kita anggarkan, tapi airnya asin, itu sekitar 2022. Jadi belum bisa jadi solusi utama," bebernya.
Dusun Tegalwangi, lanjut dia, dihuni sekitar 150 kepala keluarga (KK) dengan total warga mencapai 600 jiwa. Kondisi ini membuat kebutuhan air bersih menjadi cukup tinggi, terutama saat pasokan alami mulai berkurang.
Sementara itu, Kapolresta Magelang Kombes Pol Herbin Garbawiyata Jaya Sianipar menyebut, bantuan air bersih didistribusikan menggunakan kendaraan water canon dengan kapasitas hingga 6.000 liter per pengiriman. Kendaraan ini dinilai efektif menjangkau wilayah yang sulit dilalui truk tangki biasa. "Selain kapasitasnya besar, water canon ini juga cukup tangguh untuk medan yang sulit," paparnya.
Dia menambahkan, kegiatan serupa memang rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap warga. Khususnya di wilayah yang terdampak kekeringan. Di sisi lain, penanaman pohon juga menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan lingkungan. (aya/eno)