Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

514 Taruna Akmil Kirab Pamitan di Magelang, Sarat Etika dan Nilai Sopan Santun Ketimuran

Naila Nihayah • Jumat, 26 Juni 2026 | 19:59 WIB
PAMITAN: Ratusan taruna Akmil telah merampungkan pendidikan dan melaksanakan kirab di Alun-Alun Kota Magelang Jumat (26/6). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
PAMITAN: Ratusan taruna Akmil telah merampungkan pendidikan dan melaksanakan kirab di Alun-Alun Kota Magelang Jumat (26/6). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

MAGELANG - Sebanyak 514 Taruna Tingkat III Akademi Militer (Akmil) melaksanakan kirab pamitan dari kawasan Alun-Alun Magelang menuju kompleks Akmil. Tradisi ini bukan sekadar seremoni penutup pendidikan, melainkan menjadi simbol etika dan sopan santun ketimuran yang dijunjung dalam kehidupan militer.

Kirab ini diawali dengan barisan drumband Genderang Suling Canka Lokananta (GSCL) dan diikuti ratusan taruna. Kirab tersebut menjadi bagian dari rangkaian akhir pendidikan Taruna tahun ajaran 2023-2026, sebelum mereka diberangkatkan ke Jakarta pada pertengahan Juli.

Gubernur Akmil Mayor Jenderal TNI Rano Tilaar menjelaskan, tradisi kirab pamitan memiliki makna filosofis yang kuat. Serta berakar pada nilai budaya timur yang menekankan pentingnya etika dalam datang dan pergi. "Ada peribahasa Melayu, datang harus kelihatan muka, pulang harus kelihatan punggung. Artinya, ketika kita datang kita permisi, ketika kita pergi kita juga pamit," ujarnya usai kirab Jumat (26/6).

Baca Juga: Marak Bentor Parkir Sembarangan di Pinggir Jalan Malioboro, Dikeluhkan Warga Bikin Macet: Begini Katanya!

Dia menyebut, selama menempuh pendidikan di Magelang, para taruna tidak hanya berlatih di lingkungan akademi, tetapi juga hidup berdampingan dan berinteraksi dengan masyarakat. Dalam proses itu, tidak menutup kemungkinan terjadi kekhilafan, baik disengaja maupun tidak.

Karena itu, kirab pamitan menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat. "Ini bagian dari sopan santun ketimuran. Kalau datang kita 'kulo nuwun', maka ketika pergi kita juga harus pamit dan memohon maaf," katanya.

Dari total 514 taruna yang mengikuti kirab, sebanyak 30 di antaranya merupakan taruni. Mereka akan segera menyelesaikan pendidikan pada 16 Juli mendatang, sebelum mengikuti rangkaian Prasetya Perwira (Praspa) di Mabes TNI, Cilangkap pada 21 Juli.

Baca Juga: Menguak Fakta Unik Banyuwangi yang Selama ini Identik dengan Mitos Santet

Selain aspek tradisi, Rano juga menyinggung perubahan sistem pendidikan di Akmil yang kini disesuaikan dengan kebutuhan organisasi TNI. Masa pendidikan dipersingkat menjadi tiga tahun, namun tetap mempertahankan standar kualitas.

Dia menegaskan, Akmil saat ini juga bertransformasi menjadi perguruan tinggi militer, yang mana para taruna harus menempuh pendidikan setara sarjana terapan dengan beban 144 SKS dan lebih dari 5.400 jam pelajaran. "Tidak hanya mencetak komandan lapangan, tapi juga lulusan yang punya kompetensi akademik di bidang pertahanan," terangnya.

Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menuturkan, keberadaan Akmil telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kota. "Tradisi ini menunjukkan bahwa Akmil bukan hanya institusi pendidikan militer, tetapi juga bagian dari kehidupan Kota Magelang," bebernya.

Dia mengutarakan, interaksi selama bertahun-tahun antara taruna dan masyarakat telah membentuk hubungan emosional yang kuat. Sehingga momen perpisahan seperti ini menjadi lebih bermakna. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Taruna Tingkat III Akademi Militer (Akmil) #kirab pamitan #Magelang #Akmil #TARUNA