Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Alasan Upah hingga Lowongan Pekerjaan, Warga Kebumen Pilih Kerja di Jepang daripada Indonesia

Muhammad Hafied • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:09 WIB
Calon tenaga migran dari berbagai daerah hadir dalam pembukaan Job Fair 2026 di Gedung Pertemuan Setda Kebumen, Kamis (25/6). (M Hafied/Radar Jogja)
Calon tenaga migran dari berbagai daerah hadir dalam pembukaan Job Fair 2026 di Gedung Pertemuan Setda Kebumen, Kamis (25/6). (M Hafied/Radar Jogja)



 

KEBUMEN - Tidak sedikit lulusan baru atau fresh graduate di Kebumen lebih memilih mencari peluang kerja di luar negeri. Mereka mencari alternatif baru sebagai pekerja migran karena iklim kerja di luar negeri lebih menjanjikan ketimbang harus bersaing di dalam negeri.

Hal ini terungkap saat gelaran Job Fair 2026 yang berlangsung di Gedung Pertemuan Setda Kebumen, Kamis (25/6). Fatih Zhafir Mubarok, 20, pemuda asal Desa Kaleng, Kecamatan Puring mengaku lebih cenderung minat bekerja di Jepang daripada di Indonesia.

Alasan utamanya karena besaran upah di sana jauh lebih layak, tidak seperti di dalam negeri. Di samping itu mencari lowongan pekerjaan di Indonesia saat ini juga semakin terbatas. "Di sini sulit cari kerjaan. Sudah memutuskan berangkat ke Jepang," katanya.

Baca Juga: Menengok Sejarah Mataram Pasca Perjanjian Giyanti di Festival Kethoprak Kulon Progo 2026

Pria yang baru lulus SMK tahun lalu itu mengatakan, bekerja jauh dari keluarga bukan menjadi satu penghalang. Dia justru merasa keberangkatanya ke Negeri Sakura akan mudah membantu perekonomian keluarga.

Fatih mengaku tergiur bekerja di Jepang karena sistem di sana cukup adil antara beban kerja dan gaji yang diterima. "Sistem kerjanya fair, satu jam di sana bisa dapat Rp 150 ribu. Tinggal kalikan," sebutnya.

Saat ini, kata Fatih, dia bersama rekan lain telah mengikuti pelatihan kerja sebagai bekal mengadu nasib di Jepang. Dia berencana akan bekerja di bidang konstruksi dengan jangka waktu minimal lima tahun. "Ngumpulin gaji dulu, buat modal usaha setelah pulang," katanya.

Baca Juga: Data Anak PNS Pendaftar Jalur Afirmasi Bakal Ditinjau Ulang, Dinsos P3A Gunungkidul Tunggu Data Lengkap untuk Pemutakhiran DTSEN

Calon tenaga migran lain, Arfi Miftahudin, 26, menyatakan, persaingan lowongan kerja yang begitu ketat membuat dirinya memutuskan pergi merantau jauh dari Kebumen.

Dalam waktu dekat dia berencana akan bergabung dengan salah satu perusahaan di Jepang. Kepastian upah tinggi membuat dia memilih bekerja di luar negeri. "Pakai visa magang gajinya masih sekitar Rp 15 juta. Setelah itu rata-rata bisa sampai Rp 20 juta," ungkapnya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi untuk masuk ke perusahaan dalam negeri sekarang cukup kompleks. Dia melihat sistem ketenagakerjaan di Indonesia belum begitu berpihak kepada pekerja. Hal ini dapat dirasakan dari adanya ketimpangan besaran upah pekerja.

Baca Juga: Dana Nasabah Dijamin Aman, Staf BPR Magelang Dinonaktifkan Usai Terseret Kasus Korupsi Pengelolaan Kredit Rp 4 Miliar

 Belum lagi, calon pekerja juga harus menghadapi kebijakan soal batasan usia yang ditetapkan perusahaan. "Sistem kerja semakin sulit. Sekarang usia 25 di pabrik sudah ketar-ketir. Pakai sistem kontrak, lagi," ucap warga Kecamatan Karangsambung itu.

Pembimbing dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bintang Indo Corpora Gilang Fitrianto, 24, mengungkapkan, tren minat generasi muda untuk bekerja di luar negeri setiap tahun terus meningkat.

Menurutnya, selain banyaknya ketersediaan lapangan kerja, kepastian jenjang karier di luar negeri menjadi salah satu faktor generasi muda memilih sebagai pekerja migran. Tidak sedikit lulusan baru jenjang SMA menunjukkan peminatan untuk dapat bekerja di negeri orang.

Baca Juga: Mengenal Kuswantoro, Penyandang Disabilitas Berprestasi di Olahraga Lari Rasakan Suasana Lebaran, Berpesan Gali K

 "Dua tahun terakhir kami berangkatkan 50 orang. Tahun ini yang ikut pelatihan lebih dari 150 orang," bebernya.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar sepakat jika pasar kerja internasional dapat menjadi solusi untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Di samping itu pekerja migran juga dinilai memiliki kontribusi terhadap pembangunan daerah. Cak Imin mengungkapkan, tantangan terbesar terkait pekerja migran saat ini bukan terletak pada kemampuan masyarakat, melainkan terbatasnya akses informasi, pelatihan, serta pemahaman mengenai prosedur penempatan kerja yang aman dan legal.

 "Kami juga tidak ingin ada pekerja migran tidak melalui prosedur yang memiliki sistem teruji," terangnya. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#kebumen #job fair #pekerja migran #Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar #jepang