MAGELANG - Sebuah mesin berwarna dominan hijau berdiri tegak di depan rumah Ben Swarna Sugi, tepatnya di Kampung Dukuh RT 03/RW 03, Kelurahan Magelang, Magelang Utara.
Sekilas mirip ATM, tetapi bukan uang yang dimasukkan, melainkan botol plastik bekas. Bahkan dari mesin ini, sampah berubah menjadi saldo digital.
Ben menyebutnya sebagai ATM Sampah. Secara teknologi, alat ini dikenal sebagai Reverse Vending Machine (RVM) yang di sejumlah negara maju telah lama digunakan untuk mengelola sampah botol secara lebih modern dan terukur. Kini, konsep itu hadir dan digagas oleh Ben yang notabene seorang petugas kebersihan setempat.
"Cara kerjanya sederhana. Warga masukkan botol, nanti terbaca sensor, lalu nilainya masuk ke akun pengguna dalam bentuk saldo digital," ujar Ben di kediamannya, Senin (22/6).
Setiap botol plastik dihargai Rp 50. Nominal itu sengaja ditetapkan bukan semata soal nilai ekonomi, tetapi sebagai pemicu perubahan perilaku.
Selama ini, kata dia, banyak warga yang enggan mengumpulkan botol karena jumlahnya sedikit dan tidak cukup untuk dijual ke pengepul atau bank sampah.
"Harus banyak dulu baru laku. Akhirnya warga memilih dibuang begitu saja, dicampur dengan sampah lain," katanya.
Kondisi yang sehari-hari ia temui saat bekerja mengangkut sampah, justru menjadi titik awal munculnya ide.
Ia melihat, ada celah dalam sistem pengelolaan sampah yang belum terjawab, bagaimana mengakomodasi sampah dalam jumlah kecil agar tetap bernilai.
Melalui ATM Sampah, lanjut dia, botol satuan yang sebelumnya dianggap tidak berarti, kini bisa langsung dikonversi menjadi uang digital.
Saldo yang terkumpul tidak hanya bisa disimpan, tetapi juga dicairkan melalui transfer bank maupun dompet digital seperti Dana dan OVO.
Bahkan inovasi ini tidak berhenti pada proses penukaran saja. Ben juga mencoba menghubungkan sistem tersebut dengan ekonomi lokal.
Sejumlah warung di sekitar kampung mulai diajak bermitra, sehingga saldo dari ATM Sampah dapat digunakan langsung untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Sekarang sudah ada sekitar tiga warung di wilayah RW 3 yang bekerja sama. Jadi warga bisa langsung pakai saldo itu untuk belanja," lontarnya.
Meski masih dalam tahap uji coba sekitar satu bulan, respons warga mulai terlihat. Warga yang sebelumnya terbiasa membuang botol plastik kini mulai mengumpulkannya, meskipun dalam jumlah kecil.
Perubahan ini, kata Ben, memang belum signifikan, namun menunjukkan arah baru dalam pengelolaan sampah berbasis perilaku.
Baca Juga: Winger Asing Anton Fase Dikabarkan Tak Diperpanjang PSIM Jogja
Alih-alih menunggu kesadaran tumbuh dengan sendirinya, sistem ini mencoba membangun kebiasaan melalui insentif langsung.
Bagi Ben, ATM Sampah bukan sekadar alat, tetapi solusi dari persoalan yang ia lihat setiap hari. Dia berharap, sampah plastik berupa botol tidak lagi dibuang, tetapi ditabung.
Warga Kampung Dukuh, Doni Mulyono, 29 menilai, sistem ini lebih praktis dibanding harus menunggu sampah terkumpul banyak.
Menurutnya, keberadaan ATM Sampah ini cukup membantu karena bisa mengurangi limbah sampah. "Terutama limbah plastik yang sulit terurai karena waktu terurainya lama," bebernya. (laz)
Editor : Herpri Kartun