MUNGKID - Sedikitnya ada 20 kecamatan di Kabupaten Magelang yang rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Menghadapi potensi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyiapkan langkah antisipasi, mulai dari pemetaan wilayah terdampak, konsolidasi relawan, hingga skema distribusi air bersih jika kondisi memburuk.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto menyebut, ancaman kekeringan tahun ini tidak bisa dianggap biasa. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), durasi kemarau 2026 diprediksi lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan puncak terjadi pada Agustus.
"Kemarau ini bisa memicu bencana kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan," ujarnya, Kamis (25/6).
Baca Juga: Prediksi Skor Curacao vs Pantai Gading Piala Dunia 2026 Grup E, Mampukah The Blue Waves Ciptakan Kejutan?
Dengan prediksi kemarau yang lebih panjang dan kering, BPBD mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah. Berdasarkan pengalaman tahun 2023 saat terjadi fenomena El Nino, kekeringan melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Magelang.
Saat itu, tercatat sekitar 20 kecamatan terdampak, dengan sebaran mencapai lebih dari 100 desa. Wilayah seperti Borobudur, Salaman, Tempuran, Kajoran, Pakis, sampai Tegalrejo itu termasuk yang rawan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD menyiapkan pola penanganan serupa dengan tahun sebelumnya. Satu di antaranya melalui dropping air bersih. Pada 2023, distribusi air mencapai sekitar 8 juta liter, dengan kontribusi terbesar justru datang dari partisipasi masyarakat dan relawan.
Baca Juga: Kala Para Ayah Mengambilkan Rapor Anaknya di MAN 1 Yogyakarta, Ada Perasaan Bangga, Haru, dan Kesusu
"BPBD hanya sekitar 2 juta liter, sisanya dari masyarakat," terangnya.
Selain kekeringan, BPBD juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan lereng gunung seperti Sumbing, Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong, dan Telomoyo. Wilayah-wilayah ini dinilai rentan karena vegetasi kering dan akses yang terbatas.
Wakil Bupati Magelang Sahid menegaskan, ancaman kemarau panjang tahun ini berpotensi menimbulkan dampak luas. Tidak hanya pada ketersediaan air bersih, tetapi juga sektor pertanian dan risiko kebakaran.
"Ini bukan sekadar soal kekeringan, tapi juga ketahanan pangan dan keselamatan lingkungan. Karena itu, kita tidak bisa bekerja sendiri," sebutnya. (aya/pra
Editor : Heru Pratomo